Dear Galaksi, di penghujung akhir tahun ini ada satu fenomena yang membuat isi hati kecil ini bergetar hebat. Lebih menggetarkan dari sebuah isu ramalan suku maya yang tidak akan habis jika kita bawa ke ruang debat.
Fenomena Desemberia namanya.
Jarak terdekat antara bulan dan bumi dalam satu garis ruang peristiwa. Bulan yang gelap, abu-abu, dan hampa tak berpenghuni, berjumpa dengan Bumi yang berkilau dengan segala isinya. Bumi yang terlihat seperti berlian yang menyilaukan sang mata, berbaur dengan Bulan berisi debu yang kadang sering menyesakan dada.
Bulan itu cerminan diriku, dan Bumi dengan segala kedigdayaannya jelas tercermin dalam hamparan kehidupanmu. Kita memang berbeda, mulai dari jarak, isi, hingga atmosfer yang tersedia.
Tenang, kita masih dalam satu langit yang sama. Langit yang menyatukan kita di Desemberia.
Jauh sebelum peristiwa itu, kita memang sudah sering saling sapa namun tak pernah bercanda dalam jarak 1 centi saja. Dahulu, bayanganmu terukir di bias mata. Selalu bicara biar Tuhan yang melukis kita, entah di langit yang sama ataupun berbeda.
Ada yang jatuh di hatiku, dengan kecepatan sekilat meteorit yang menembus atmosfer serta gravitasi dari sebuah kata rindu. Namun aku bisu, aku takut untuk terus maju.
Semua berubah sejak Desemberia, dengan doa dan cahaya yang perlahan menyala, setidaknya itu mampu menerangiku di galaksi yang gelap gulita. Ada harap yang terus ku jaga, aku harap kamu tak seperti komet non-periodik yang datang hanya sekali saja.
Biarkan seisi galaksi terus berputar, kita pernah sedekat 1 centi dan aku akan tidak takut ditinggal lagi. Karena ku yakin, suatu saat bumi itu kan mendekat lagi, mendekat dengan bulan yang terus menunggu terpatri.
Desemberia, akhir 2012.