Kamis, 19 Desember 2013

Someday I'll Meet You


Seems like yesterday 
That we were having so much fun 



I can see you smile 
Remembering the things we've done 
But time goes by so fast 
So many things were left unsaid 
I wish I had a chance 
To spend the day with you just one 



I've always known that you've tried your best 
Don't keep any regrets in you 
And you'll be fine 



I can feel you everywhere I go 
I wrote this song for you to know 
I'm wishing on every star to show you a sign 
And if you can hear what I'm singing now 
I wish happiness to be found in your life 
And I'll be there someday on the other side 



Take it easy now 
You were just too sensitive for this life 
Don't you worry 'bout us 
Someday we should be fine 



And I'll be there someday on the other side

Jumat, 15 November 2013

Pemilik Rindu

Wahai pemilik rindu....
Melihat kedua matamu, aku merasa seolah kita pernah saling bertatap lama


Meski kita tak sekalipun pernah berjumpa..
Tatapan itu, seolah aku dan kamu pernah saling berbicara melalui sorot mata..


Kini ada lain yang juga aku rindu darimu
Yakni sorot mata itu.. 


Kerinduanku pada tatapanmu..
Wahai pemilik rindu...


Tuntaskanlah segala kerinduanku akanmu..
Secepat kamu mampu...



*untukmu yang masih jauh dan kutunggu..

aku rindu... sangat

Rabu, 13 November 2013

Kita...mungkin yang Lalu :')



Kita berbicara tentang masa depan seolah-olah kita mengetahuinya dengan benar. Tentang berapa kita akan punya anak, tentang seperti apa konsep pernikahan kita, tentang kita akan bulan madu di mana. Ya, menyenangkan sekali. Lalu kita akan tertawa sepanjang malam.


Kita bercanda tentang berbagai hal seolah kita hanya hidup sendirian. Tentang film apa yang kamu suka, tentang buku apa yang aku suka, dan tentang seperti apa muka kita nanti ketika tua. Ya, tidak membosankan sama sekali. Lalu tangan kita akan saling menggenggam sepanjang malam.

Kita bercerita tentang dongeng cinderella dan kita adalah pemeran utamanya seolah dongeng cinderella itu adalah nyata. Tentang bagaimana cantiknya si puteri (bagiku kamu lebih cantik), dan bagaimana cintanya pangeran (cintaku lebih dari yang bisa diceritakan).

Tentang keduanya hidup bahagia lebih lama dari selamanya. Hahaha, kita gila. Tapi juga sedang jatuh cinta. Lalu kita saling berpandangan, tanpa mengucap apa-apa. Hanya senyuman. Kita sama-sama tahu bahwa itu artinya cinta.

Kita benar-benar merencanakan segala sesuatu sampai sebegitu detailnya. Tapi kita tidak pernah merencanakan bagaimana jika ternyata kita tidak bersama nantinya. Itu kesalahan pertama. Ah, juga yang terbesar. Sekarang apa yang harus kulakukan setelah kamu tidak ada?

Mengelus dadaku ketika aku rindu, agar tidak perih mataku lalu menangisimu? Sudah. Berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaan dan berkumpul bersama teman-teman? Itu juga sudah. Membaca buku, menonton film atau live music? Itu sudah.

Tapi kalau sudah waktunya pulang, dan aku sendirian, rinduku benar-benar tidak tertahankan. Kadang aku merasa bahwa sesaknya sudah dalam tahap keterlaluan, tapi tidak ada yang bisa kulakukan.


Hanya menangisimu, hanya memegangi dadaku dan bertanya kenapa kehilangan bisa seperih itu. Dan aku melakukannya sampai lelah, sampai mataku merah, dan tertidur dengan sendirinya.

Kamu, ... Aku rindu. 

Sangat.          

Selasa, 29 Oktober 2013

Jika Ada Kamu





Tanpa kamu, aku masih bisa mendengarkan lagu dan menyanyi tanpa kenal waktu. Bersenang-senang meski setelah itu kelelahan.

Tanpa kamu, aku masih bisa menikmati perjalanan meski itu cukup panjang. Memandangi sawah dan gunung, sampai akhirnya ketiduran.

Tanpa kamu, aku masih bisa tertawa melihat Opera van Java sampai berairmata. Sambil tiduran atau ngopi di depan komputer untuk bekerja.

Tapi mungkin aku tidak harus berusaha terlalu keras menikmati semuanya, kalau ada kamu.

Jika ada kamu.




*namarappuccino

Minggu, 27 Oktober 2013

You and I




When I believe that you would never let me down

And I know that you’ve tried the best you can
Well everything’s will be all right when you’re with me now
You’re the best that I’ve ever had



Life’s gone and it seen up and down
We cried, we laugh, we love, we work it out
Well everything’s will be alright when we’re together
You said our love will last forever



You and I
We’re stars in the sky
You and I
We’re in love



We’ll fly so high,
we try to make a better living

You and I
We’re in love


Rabu, 25 September 2013

Satu Shaf di Belakangmu




Aku tahu, kadang-kadang hidup itu tidak adil--menurut kita, meski sebenarnya Tuhan selalu bersikap adil pada manusia yang diciptakan-Nya. Tetapi pada saat kamu merasa hal itu sedang terjadi, dimana kamu merasa sedang jatuh dan dunia memusuhimu, aku di sini, di satu shaf di belakangmu ketika kamu sudah pulang nanti.

Kamu bilang, aku 'rumah'mu. Bukan bangunan atau gedung, tetapi aku. Jadi, sejauh apa pun kamu pergi, kepadakulah kamu akan selalu kembali. Karena itulah, aku selalu di sini tidak pernah pergi apa pun yang menimpamu, dulu, sekarang, ataupun nanti. Karena akulah tempat kamu bisa selalu pulang. Jadi, setiap hari, aku bersedia menunggu, menyiapkan teh panas sementara kamu mengambil air wudhu. Lalu aku akan bersiap untuk berdiri satu shaf di belakangmu.


Dan ketika kamu lelah, aku juga selalu di sini. Menyediakan bahuku. Menemanimu bercerita untuk mengurai semua kisah satu demi satu, lalu mencari jalan untuk mengatasinya berdua. Karena untuk melihat senyummu, aku masih dengan senang hati berada satu shaf di belakangmu.

Aku akan selalu satu shaf di belakangmu, dalam sholat berdua, atau dalam menjalani hidup berdua. Tidak hanya ketika berbahagia, tetapi juga ketika kamu sedang pada taraf jatuh sehingga tidak punya siapa-siapa. Karena aku tahu, kamu selalu melakukan hal terbaik yang kamu bisa untuk menjaga bahagiaku. Yang kamu minta hanyalah, aku tetap selalu berada di satu shaf di belakangmu. Bukan untuk selalu menjadi buntutmu, tapi untuk berdoa bersama dan berterima kasih bersama atas semua bahagia.

Jumat, 09 Agustus 2013

Rindu



Rindu itu mirip balon udara.
Semakin banyak, semakin ingin diterbangkan.
Kata yang mengudara, serta harapan yang menjulang ternyata hanya mampu menamparmu pada sapa bisu yang terpendar. Entah terbuat apa dirimu hingga bisa menahan sedikit lajuku untuk terus mencari jalan pulang.


Beranjak dari sepasang mata yang menari, mencuri pandang di relung-relung ruang sunyi. Biarkan saja rindu yang merintih, dada yang sendat dengan ratusan kata yang tak mampu kumuntahkan ke permukaan.
Ya, aku merindu, selalu begitu dan tak pernah kenal waktu.


Tapi apakah cinta tidak butuh logika seutuhnya?
Yang ku tahu manusia butuh belajar dari ‘luar’ agar hidup tidak ‘biasa’. Lalu kombinasikan keduanya hingga menjadi luar biasa.


Rindu memang tak kenal kata ambigu.


Ia cuma kenal kenangan kita yang kita tinggal dulu. itu satu. Seterusnya dan tak akan ada habisnya. Rindu adalah lemparan dadu, perjudian jarak dan waktu. Sayangnya, kita tak selalu seberuntung dulu.


Diam, merasakan hangat sapamu dari dekat adalah impianku setiap malam. Padahal, satu yang perlu kamu tahu meskipun aku selalu merindu, pasti ada saja perasaan dari hati bahwa kamu adalah rumah yang bukan aku tuju.


Sepertinya, butuh lebih dari sekedar membuka lembaran baru untuk melupakanmu. Dan aku tak pernah sampai pada halaman itu. Khususnya saat ini.

Aku masih terlalu nyaman dengan lagu pengantar tidur yang kuciptakan sendiri melalui bayanganmu.
Terbang, bersama mimpi yang kuciptakan sendiri. Berlari, selagi ada kesempatan untuk berharap dan tak akan berhenti. Rumah yang sesungguhnya masih terus aku cari.


Nanti bila kita terikat cinta dalam doa, kita akan membenci pagi yg sama. Pagi yg memisahkan pelukan kita.

ditulis saat rindu menghampiri dengan perasaan yg gundah

Rabu, 08 Mei 2013

Seiring Waktu Berjalan

 



Aku punya langit cinta yang siap menghujanimu, tetapi kau malah merasa ada diatas awan. Sambil kau acuh dan mengabaikan hadirnya aku disini, maukah sebentar saja kau menoleh ke arahku untuk melihat betapa bodoh aku?

Aku ga ngerti dan jadi bilang "kenapa", terkadang "entah" dan terkadang "yasudah". Sekarang apa maumu? melihatku menangis-nangis menjerit tapi sambil memberimu tepuk tangan karna kau hebat? Sadarilah sekarang betapa hebatnya kau bersandiwara hingga aku bahagia, lalu setelah itu kau jatuhkan aku kembali!

Kini ketulusanku telah kalah oleh kerinduanmu akan kesendirian. Kau tidak jatuh cinta padaku, kau hanya jatuh cinta pada saat-saat indah bersamaku. Setelah waktu jauh berjalan, berkali-kali siang dan malam berganti, ternyata aku hanya "sesuatu" bukan "siapa-siapa". Aku bukan pujaan untukmu,bukan juga sesuatu yg berharga aku hanya seonggok cincin yg dibuang untuk diambil permatanya..

Dan aku hanya incaran bagi kau yg kebetulan suka tantangan..

Kamis, 02 Mei 2013

The worst feeling..

Mungkin ini lah waktunya, ku berbagi rasa..

Ku ingin kau tahu..betapa rapuhnya aku..
Aku menunggumu, ku kan setia padamu..

Walau sakit.. bagiku...

Tapi apa balasanmu, kepada diriku?
Ku tlah berusaha, menjadi yang terbaik.. untukmu...

Tapi apa balasanmu,kepada diriku?

Permainkan diriku, Permainkan hatiku..

Tapi ku kan slalu..

Cinta Padamu... :)

Selasa, 16 April 2013

Senja..Malam.Teruntukmu

Senja masih menyisakan secercah warnanya untuk menyambut datangnya malam, sebelum ia benar-benar hilang tertelan kegelapan. Gelap yang bertaburan bintang bak permata yang berkilauan di kejauhan. Yang terkadang hilang tersaput awan.

Akulah penikmatnya. Yang memandanginya tanpa bosan dengan segala kenangan, asa dan harapan. Dengan segala rasa yang selalu ingin diceritakan. 
Akulah penikmatnya yang selalu menyambut hadirnya dengan senyum mengembang. Karena padanyalah aku bisa menjadi siapa aku sebenarnya. Mengungkap segala rasa tanpa takut untuk dicela. Bercerita bersama airmata  tanpa takut dihina.

Aku menemukan nyaman pada hadirnya.

Tak jarang aku mencari jawab dari segala tanya yang kupunya. Mencari makna atas segala ragu yang mendera. Dan ia akan memelukku dalam dinginnya.

Dia tahu apa yang sedang terjadi pada rasaku, dia pun tahu apa yang mungkin aku tidak tahu, karena dia memeluk dan menerima semua rasa yang dicurahkan padanya. Dari setiap anak manusia yang terjaga bersamanya.

Andai saja aku bisa berbicara padanya....

Aku akan tanyakan apa yang ia lihat di seberang sana..
Aku akan tanyakan apa yang diceritakan pemilik rasa satunya kepadanya..
Aku akan tanyakan apakah dia melihat bintang yang sama dengan yang ku lihat..
Aku akan tanyakan apakah ada asa dan rasa yang senada di seberang sana..
Aku akan tanyakan apakah si pemilik rasa satunya pun bertanya-tanya tentangku....

Sayang sekali aku dan malam hanya bisa menghabiskan waktu bersama tanpa mampu berkomunikasi secara nyata. Aku dan malam hanya akan selamanya menjadi sahabat dalam diam.

Sabtu, 30 Maret 2013

In The End




Mendekap luka sembari menahan apa itu duka. Kalimat diatas pantasnya diucapkan ketika perasaanmu membucahkan murka.
Murka ketika semua kenyataan terbaca, bahwa tak selamanya usaha memberikan hasil yang bahagia. Sederhananya, semua yang kamu berikan untuknya hanya dianggap sebelah mata.
Waktu itu jam dinding mengarahkan panahnya pada angka jam tiga pagi, waktu Jakarta bagian sepi. Tapi selalu ada tempat ramai di sini, di tempat kamu dan sejuta kenangan yg masih melekat di hati. Di sudut teras, terselip kesepian antar meja. Dia rindu akan perbincangan yang memberi tawa hingga air mata. Yaitu kita.
Sewajarnya jika cinta itu kita, ia menjelaskannya bahwa cinta tak hanya jatuh. Tapi meresapi bersama waktu merasuki ke dalam tubuh dan kemudian tumbuh. Berakar meskipun kadang tak semuanya memiliki dahan yang kuat dan kemudian rapuh.
Filosofi akar, meskipun dahan di atas tak lagi utuh, tapi yang namanya akar tentu saja masih berpeluang untuk kembali tumbuh.
Ribuan detik ku terus coba berlalu, bertarung dengan bekas luka yang kau tinggal dulu. Berharap pribadi ini terus dikuatkan oleh sang waktu. Esok atau lusa nanti. Jika kita bertemu bersama keteguhan hati, jangan lagi pelukan kita diselingi janji-janji. Janji yang membuat kita terkadang lupa diri. Lupa bahwa Tuhan adalah pengatur segala isi bumi.
Semenjak kamu pergi. hobiku bertambah menjadi lebih sering menunggu pagi. Menunggu sewaktu-waktu rasa pahit akan mencaci terhadap isi hati yang tak lekas ingin pergi. Termasuk ketika fantasi wajahmu hanya ada di dalam kepala, dan anestesimu sekedar penghilang luka. Itu saja
Aku menunggu ditampar. Ditampar kenyataan bahwa tak selamanya cinta itu harus selalu jalan beriringan. Ditampar bahwa ketika cinta yang bertepuk sebelah tangan, suatu saat akan ada orang lain yang jauh disana akan membantumu untuk bertepuk tangan.
Lalu dengan ikhlas berikanlah tepuk tangan itu kepada orang yang dulu kamu harapkan. Dan jangan lupa, ucapkan juga selamat yang diiringi doa. Semoga kamu bagagia.

Rabu, 20 Maret 2013

Sebuah Pilihan


Setiap jalan pasti akan menemui persimpangan. Entah antara dua, tiga ataukah empat. Persimpangan yang akan menghadapkanmu pada sebuah pilihan. Ya, pilihan. Dimana hanya akan ada satu yang kau ambil sebagai jawaban karena tidak mungkin kau akan membuatnya beriringan.

Begitu pula dengan hidup. Hidup akan selalu mengarahkanmu pada sebuah pilihan. Pada sebuah keputusan disetiap kesempatan. Hanya saja dalam hidup pilihan tak selamanya mutlak. Tak selamanya hanya bisa kau ambil satu sebagai jawaban. Dalam hidup terkadang kau bisa memilih beberapa keputusan untuk dijalankan secara beriringan. Tentu saja. Pertanyaannya tinggal apakah kamu mampu dan siap untuk menjalankannya.

Hidup adalah pilihan. Pilihan untuk berbuat baik atau tidak, untuk dapat bermanfaat bagi sesama dan sekitar atau tidak. Pilihan untuk maju atau diam di masa lalu. Pilihan untuk meraih keinginanmu atau menjalankan tuntutanmu.
Dan masih banyak pilihan-pilihan lainnya.

Terlihat sederhana dan cukup memilih saja sesuai inginmu bukan? Namun pada  penerapannya tidaklah semudah 'kelihatannya'. Banyak faktor lain yang membuat pilihan menjadi sulit. Tak jarang diperlukan suatu pengorbanan yang cukup besar untuk menentukan satu pilihan kecil. Dimana ego akan turut bermain. Dimana emosi akan ikut serta berpartisipasi.

Baagi seseorang, bahkan sebuah pilihan tak hanya sulit untuk ditentukan tetapi juga terasa begitu mahal. Untuk sebuah pilihan mendasar seperti menjadi diri sendiri sesuai keinginan hatinya maka ia harus membayar dengan hidupnya. Mengorbankan orang-orang yang sangat berarti dan dicintainya. Maka sebelum pilihan itu terjawab akan timbul sebuah pilihan baru yang menyusul untuk minta dijawab pula. Pilihan antara mengedepankan ego atau mengorbankan ego dan hati demi orang-orang yang dicintai. Pilihan pun menjadi bertumpuk dan kian blunder, yang pada akhirnya pilihan tak akan pernah menjadi sebuah pilihan.

Pilihan hanya akan bisa menjadi sebuah pilihan jika tak ada syarat dan ketentuan yang diberlakukan. Saat hal itu terjadi, pilihan hanya akan menjadi hiasan kehidupan. Dimana yang menjalankan hanya akan mampu memandanginya tanpa bisa masuk didalamnya. Karena baginya, pilihan bukanlah pilihan untuknya.

Rumit? Ya begitulah...
Hanya yang mengalami dan menjalankannya yang akan mengerti.

Sabtu, 26 Januari 2013

:')


Ini malam dingin
Dimana desau angin menggerakan dedaunan untuk saling bertabrakan
Hasilkan suara lembut nan gemuruh pecahkan malam

Ini malam dingin
Dimana langit gelap menghitam
Tak ada gemerlap bintang karena terhalang awan
Hanya desau angin yang mendinginkan tulang

Ini malam yang dingin
Dimana ada sebuah hati dan pikiran yang melayang jauh
Menembus batasan ruang dan waktu
Mencari jawab dari semua tanya yang ada

Tentang cita, tentang cinta, juga tentang derita
Tentang tawa, tentang canda, juga tentang air mata
Tentang segala cerita di dunia

Ini malam yang dingin
Dimana ada seulas senyum yang menghangatkan
Mengalahkan udara dingin dengan keceriaan
Ceria yang mungkin telah menuai jawab
Mungkin juga tidak

Tapi rasa hangat itu ada dan nyata
Menyelimuti hati dan jiwa
Untuk mampu bertahan melewati malam
Dan berkawan dengan kebekuan

Hingga pagi menjelang
Dimana sang mentari akan menjulang
Membawa hangat dan keceriaan yang sesungguhnya

Dimana waktu akan membawaku
Pada inginnya hatiku...

Jumat, 04 Januari 2013

Desemberia






Dear Galaksi, di penghujung akhir tahun ini ada satu fenomena yang membuat isi hati kecil ini bergetar hebat. Lebih menggetarkan dari sebuah isu ramalan suku maya yang tidak akan habis jika kita bawa ke ruang debat.

Fenomena Desemberia namanya.

Jarak terdekat antara bulan dan bumi dalam satu garis ruang peristiwa. Bulan yang gelap, abu-abu, dan hampa tak berpenghuni, berjumpa dengan Bumi yang berkilau dengan segala isinya. Bumi yang terlihat seperti berlian yang menyilaukan sang mata, berbaur dengan Bulan berisi debu yang kadang sering menyesakan dada.

Bulan itu cerminan diriku, dan Bumi dengan segala kedigdayaannya jelas tercermin dalam hamparan kehidupanmu. Kita memang berbeda, mulai dari jarak, isi, hingga atmosfer yang tersedia.

Tenang, kita masih dalam satu langit yang sama. Langit yang menyatukan kita di Desemberia.

Jauh sebelum peristiwa itu, kita memang sudah sering saling sapa namun tak pernah bercanda dalam jarak 1 centi saja. Dahulu, bayanganmu terukir di bias mata. Selalu bicara biar Tuhan yang melukis kita, entah di langit yang sama ataupun berbeda.

Ada yang jatuh di hatiku, dengan kecepatan sekilat meteorit yang menembus atmosfer serta gravitasi dari sebuah kata rindu. Namun aku bisu, aku takut untuk terus maju.

Semua berubah sejak Desemberia, dengan doa dan cahaya yang perlahan menyala, setidaknya itu mampu menerangiku di galaksi yang gelap gulita. Ada harap yang terus ku jaga, aku harap kamu tak seperti komet non-periodik yang datang hanya sekali saja.

Biarkan seisi galaksi terus berputar, kita pernah sedekat 1 centi dan aku akan tidak takut ditinggal lagi. Karena ku yakin, suatu saat bumi itu kan mendekat lagi, mendekat dengan bulan yang terus menunggu terpatri.

Desemberia, akhir 2012.