Jumat, 09 Agustus 2013

Rindu



Rindu itu mirip balon udara.
Semakin banyak, semakin ingin diterbangkan.
Kata yang mengudara, serta harapan yang menjulang ternyata hanya mampu menamparmu pada sapa bisu yang terpendar. Entah terbuat apa dirimu hingga bisa menahan sedikit lajuku untuk terus mencari jalan pulang.


Beranjak dari sepasang mata yang menari, mencuri pandang di relung-relung ruang sunyi. Biarkan saja rindu yang merintih, dada yang sendat dengan ratusan kata yang tak mampu kumuntahkan ke permukaan.
Ya, aku merindu, selalu begitu dan tak pernah kenal waktu.


Tapi apakah cinta tidak butuh logika seutuhnya?
Yang ku tahu manusia butuh belajar dari ‘luar’ agar hidup tidak ‘biasa’. Lalu kombinasikan keduanya hingga menjadi luar biasa.


Rindu memang tak kenal kata ambigu.


Ia cuma kenal kenangan kita yang kita tinggal dulu. itu satu. Seterusnya dan tak akan ada habisnya. Rindu adalah lemparan dadu, perjudian jarak dan waktu. Sayangnya, kita tak selalu seberuntung dulu.


Diam, merasakan hangat sapamu dari dekat adalah impianku setiap malam. Padahal, satu yang perlu kamu tahu meskipun aku selalu merindu, pasti ada saja perasaan dari hati bahwa kamu adalah rumah yang bukan aku tuju.


Sepertinya, butuh lebih dari sekedar membuka lembaran baru untuk melupakanmu. Dan aku tak pernah sampai pada halaman itu. Khususnya saat ini.

Aku masih terlalu nyaman dengan lagu pengantar tidur yang kuciptakan sendiri melalui bayanganmu.
Terbang, bersama mimpi yang kuciptakan sendiri. Berlari, selagi ada kesempatan untuk berharap dan tak akan berhenti. Rumah yang sesungguhnya masih terus aku cari.


Nanti bila kita terikat cinta dalam doa, kita akan membenci pagi yg sama. Pagi yg memisahkan pelukan kita.

ditulis saat rindu menghampiri dengan perasaan yg gundah