Sabtu, 30 Maret 2013

In The End




Mendekap luka sembari menahan apa itu duka. Kalimat diatas pantasnya diucapkan ketika perasaanmu membucahkan murka.
Murka ketika semua kenyataan terbaca, bahwa tak selamanya usaha memberikan hasil yang bahagia. Sederhananya, semua yang kamu berikan untuknya hanya dianggap sebelah mata.
Waktu itu jam dinding mengarahkan panahnya pada angka jam tiga pagi, waktu Jakarta bagian sepi. Tapi selalu ada tempat ramai di sini, di tempat kamu dan sejuta kenangan yg masih melekat di hati. Di sudut teras, terselip kesepian antar meja. Dia rindu akan perbincangan yang memberi tawa hingga air mata. Yaitu kita.
Sewajarnya jika cinta itu kita, ia menjelaskannya bahwa cinta tak hanya jatuh. Tapi meresapi bersama waktu merasuki ke dalam tubuh dan kemudian tumbuh. Berakar meskipun kadang tak semuanya memiliki dahan yang kuat dan kemudian rapuh.
Filosofi akar, meskipun dahan di atas tak lagi utuh, tapi yang namanya akar tentu saja masih berpeluang untuk kembali tumbuh.
Ribuan detik ku terus coba berlalu, bertarung dengan bekas luka yang kau tinggal dulu. Berharap pribadi ini terus dikuatkan oleh sang waktu. Esok atau lusa nanti. Jika kita bertemu bersama keteguhan hati, jangan lagi pelukan kita diselingi janji-janji. Janji yang membuat kita terkadang lupa diri. Lupa bahwa Tuhan adalah pengatur segala isi bumi.
Semenjak kamu pergi. hobiku bertambah menjadi lebih sering menunggu pagi. Menunggu sewaktu-waktu rasa pahit akan mencaci terhadap isi hati yang tak lekas ingin pergi. Termasuk ketika fantasi wajahmu hanya ada di dalam kepala, dan anestesimu sekedar penghilang luka. Itu saja
Aku menunggu ditampar. Ditampar kenyataan bahwa tak selamanya cinta itu harus selalu jalan beriringan. Ditampar bahwa ketika cinta yang bertepuk sebelah tangan, suatu saat akan ada orang lain yang jauh disana akan membantumu untuk bertepuk tangan.
Lalu dengan ikhlas berikanlah tepuk tangan itu kepada orang yang dulu kamu harapkan. Dan jangan lupa, ucapkan juga selamat yang diiringi doa. Semoga kamu bagagia.

Rabu, 20 Maret 2013

Sebuah Pilihan


Setiap jalan pasti akan menemui persimpangan. Entah antara dua, tiga ataukah empat. Persimpangan yang akan menghadapkanmu pada sebuah pilihan. Ya, pilihan. Dimana hanya akan ada satu yang kau ambil sebagai jawaban karena tidak mungkin kau akan membuatnya beriringan.

Begitu pula dengan hidup. Hidup akan selalu mengarahkanmu pada sebuah pilihan. Pada sebuah keputusan disetiap kesempatan. Hanya saja dalam hidup pilihan tak selamanya mutlak. Tak selamanya hanya bisa kau ambil satu sebagai jawaban. Dalam hidup terkadang kau bisa memilih beberapa keputusan untuk dijalankan secara beriringan. Tentu saja. Pertanyaannya tinggal apakah kamu mampu dan siap untuk menjalankannya.

Hidup adalah pilihan. Pilihan untuk berbuat baik atau tidak, untuk dapat bermanfaat bagi sesama dan sekitar atau tidak. Pilihan untuk maju atau diam di masa lalu. Pilihan untuk meraih keinginanmu atau menjalankan tuntutanmu.
Dan masih banyak pilihan-pilihan lainnya.

Terlihat sederhana dan cukup memilih saja sesuai inginmu bukan? Namun pada  penerapannya tidaklah semudah 'kelihatannya'. Banyak faktor lain yang membuat pilihan menjadi sulit. Tak jarang diperlukan suatu pengorbanan yang cukup besar untuk menentukan satu pilihan kecil. Dimana ego akan turut bermain. Dimana emosi akan ikut serta berpartisipasi.

Baagi seseorang, bahkan sebuah pilihan tak hanya sulit untuk ditentukan tetapi juga terasa begitu mahal. Untuk sebuah pilihan mendasar seperti menjadi diri sendiri sesuai keinginan hatinya maka ia harus membayar dengan hidupnya. Mengorbankan orang-orang yang sangat berarti dan dicintainya. Maka sebelum pilihan itu terjawab akan timbul sebuah pilihan baru yang menyusul untuk minta dijawab pula. Pilihan antara mengedepankan ego atau mengorbankan ego dan hati demi orang-orang yang dicintai. Pilihan pun menjadi bertumpuk dan kian blunder, yang pada akhirnya pilihan tak akan pernah menjadi sebuah pilihan.

Pilihan hanya akan bisa menjadi sebuah pilihan jika tak ada syarat dan ketentuan yang diberlakukan. Saat hal itu terjadi, pilihan hanya akan menjadi hiasan kehidupan. Dimana yang menjalankan hanya akan mampu memandanginya tanpa bisa masuk didalamnya. Karena baginya, pilihan bukanlah pilihan untuknya.

Rumit? Ya begitulah...
Hanya yang mengalami dan menjalankannya yang akan mengerti.