Mendekap luka sembari menahan apa itu duka. Kalimat diatas pantasnya diucapkan ketika perasaanmu membucahkan murka.
Murka ketika semua kenyataan terbaca, bahwa tak selamanya usaha memberikan hasil yang bahagia. Sederhananya, semua yang kamu berikan untuknya hanya dianggap sebelah mata.
Waktu itu jam dinding mengarahkan panahnya pada angka jam tiga pagi, waktu Jakarta bagian sepi. Tapi selalu ada tempat ramai di sini, di tempat kamu dan sejuta kenangan yg masih melekat di hati. Di sudut teras, terselip kesepian antar meja. Dia rindu akan perbincangan yang memberi tawa hingga air mata. Yaitu kita.
Sewajarnya jika cinta itu kita, ia menjelaskannya bahwa cinta tak hanya jatuh. Tapi meresapi bersama waktu merasuki ke dalam tubuh dan kemudian tumbuh. Berakar meskipun kadang tak semuanya memiliki dahan yang kuat dan kemudian rapuh.
Filosofi akar, meskipun dahan di atas tak lagi utuh, tapi yang namanya akar tentu saja masih berpeluang untuk kembali tumbuh.
Ribuan detik ku terus coba berlalu, bertarung dengan bekas luka yang kau tinggal dulu. Berharap pribadi ini terus dikuatkan oleh sang waktu. Esok atau lusa nanti. Jika kita bertemu bersama keteguhan hati, jangan lagi pelukan kita diselingi janji-janji. Janji yang membuat kita terkadang lupa diri. Lupa bahwa Tuhan adalah pengatur segala isi bumi.
Semenjak kamu pergi. hobiku bertambah menjadi lebih sering menunggu pagi. Menunggu sewaktu-waktu rasa pahit akan mencaci terhadap isi hati yang tak lekas ingin pergi. Termasuk ketika fantasi wajahmu hanya ada di dalam kepala, dan anestesimu sekedar penghilang luka. Itu saja
Aku menunggu ditampar. Ditampar kenyataan bahwa tak selamanya cinta itu harus selalu jalan beriringan. Ditampar bahwa ketika cinta yang bertepuk sebelah tangan, suatu saat akan ada orang lain yang jauh disana akan membantumu untuk bertepuk tangan.
Lalu dengan ikhlas berikanlah tepuk tangan itu kepada orang yang dulu kamu harapkan. Dan jangan lupa, ucapkan juga selamat yang diiringi doa. Semoga kamu bagagia.