Sabtu, 26 Mei 2012

Semua itu Kamu...


Semua yang kusebut kamu
adalah langit yang membuai riuh dalam keramaian
Semua yang kusebut kamu
adalah sapa lembut dewi matahari yang meluluhkan kepedihan
Semua yang kusebut kamu
adalah cahaya yang menelusup lewat jendela kamarku
Semua yang kusebut kamu adalah rayu
Tempat kita memejamkan mata sejenak
dari melelahkannya kenyataan

Sepotong sepi yang memayungi
Memecah identitas yang tersembunyi
Kau arahkan sayapku kesana kemari
Menyentuh tatap yang tak pernah kutemui

Tak ada ragu bagimu
karena cinta telah menyerah pada pengasingannya
Belati yang tersembunyi
Menjawab tanya yang menggerogoti
Bunuh aku dengan rindu yang selalu ingin kau sudahi!

Semua yang kusebut kamu
adalah angan yang tak mampu menyentuh bibir kenyataan
Semua yang kusebut kamu
adalah tawa dibalik pelupuk air mata

Semua yang kusebut kamu
adalah kita
yang kuingin bersama
Selamanya

Kebohongan...Kenyataan...

Aku takut untuk mengetahui kenyataan yang ada, walau tatapan mata itu, seruan kelu bibirmu, dan janji manismu hanyalah dongeng yang enggan menyentuh cerita akhir. Aku tahu hari-hari bergulir begitu jahat, hingga sentuhanmu yang sebenarnya lembut terasa begitu kasar oleh indraku. Tak ada kebahagiaan yang mengamit relungku, ketika kulitmu bersentuhan dengan kulitku. Tak ada senyuman, hanya ada tatapan heran.

Kenapa harus aku?

Sungguh, aku sempat memercayai retorika yang melekat dalam pertemuan kita. Jiwaku mengalir bersama kehadiranmu yang perlahan-lahan mengisi lalu meluap. Ada decak bahagia kala itu. Ketika kepolosan wajahmu memunculkan perhatianku. Ada kejujuran yang mengatur setiap pertemuan kita. Sungguh tak ada rekayasa. Sungguh tak ada kebohongan.

Tapi, mengapa sekarang semua terasa berbeda?

Namun, seiring berjalannya waktu, entah mengapa kau telah mengubah diriku menjadi seseorang yang bahkan tidak kukenal. Bahkan perasaanku seakan kau pasangi sensor pengatur, agar aku bisa kau sakiti, agar aku bisa kau lukai. Kejujuran itu berubah menjadi rasa sakit yang lukanya tak terjamah olehmu. Kebahagiaan awal pertemuan kita seakan-akan telah hilang dan takkan pernah terulang.

Mengapa harus aku? Lagi dan lagi.

Rasanya aku tak berdaya ketika tanganmu membekas merah di pipiku. Seperti lidahku di gondol kucing, ketika amarahmu memecahkan beberapa piring. Aku terdiam saat kebencianmu menghambur lewat bibirmu. Aku seperti patung yang bahkan tak mampu menggerakan tubuhnya. Aku hanya merindukan kamu yang dulu. Dan... kenyataan pahit yang harus kuterima, bahwa dirimu yang dulu tak akan pernah kembali.

Kebohonganmu, terlihat biasa di mataku. Arogansimu adalah makanan sehari-hariku. Kau latih aku menjadi wanita buta rasa, yang bahkan tak bisa membandingkan mana luka dan mana bahagia. Tak ada bahagia dalam semestamu, tapi entah mengapa aku tak dapat lepas dari jerat itu. Aku terlampau lumrah dengan arogansimu. Aku terlalu menganggap sederhana tamparan dan makianmu itu.

Aku terlalu sering disakiti, mungkin itulah sebabnya perasaanku mati. Bahkan aku hanya mampu berdiam diri, ketika kutahu kau telah membagi hati, untuk seseorang (yang menurutmu) lebih baik dariku saat itu,saat dimana kau lupa padaku. 

Betapapun kamu tak mengerti, bahwa aku membunuh diriku sendiri hanya untuk membuatmu hidup dan bernapas..

Ditulis saat lapar yg menggerogoti lambung,flu yg tak mengizinkan hidung untuk bernafas,dan kantuk yang menjalar ke pelupuk mata! HEBAT!

Minggu, 20 Mei 2012

22nd

Kita tak selalu bisa mengingat detik-detik bersama, namun bukankah kita selalu ingat kapan pertama kali kita mengikrarkan diri untuk bersama?
Untuk memulai sesuatu yang membuat persahabatan itu menjadi sesuatu yang spesial. Yang membuat panggilan "gue" dan "lu" berubah menjadi "aku" dan "kamu" bahkan "sayang"

Angka 21 pada bulan Juli adalah hari dimana aku melihat kamu berdiri (lagi) menjulang dihadapanku. Dalam wujud nyata. Bukan hanya huruf demi huruf dalam kotak kecil Messenger-ku saat aku tak selalu berhadapan denganmu,saat aku hanya bisa mendengar suaramu di telepon genggamku atau bahkan headphoneku. Tapi ini benar-benar nyata,dihadapanku...lagi...
Sekarang kita telah melewati banyak hal yang membuat kita tertawa, menangis, gembira, bersedih, terluka, tersenyum, bahagia. Dan aku menemukan hidup bersamamu.

22 Bulan Ya, bukan waktu yang singkat untuk saling membuka diri. Tapi sampai saat ini, masih begitu nyaman terasa berada dalam hangat pelukmu. Dan biarkan aku terus merasakan itu, hingga nanti kau bisa bersamaku dalam sebuah ikatan...

Akhirnya, aku menyerahkan segala sesuatu yang terjadi pada jalan takdir. Kita akan berikhtiar hingga tenaga tak bersisa, tapi segala sesuatu telah ditentukan oleh Sang Maha Cinta. Maka, kita harus berharap bahwa jalan takdir akan menuju pada kita pada akhirnya...

Happy anniversary pria Aquariusku
Ilove you, as always :)

Jumat, 18 Mei 2012

Hujan Punya Cerita Tentang Kita

Sekali lagi aku ingin cerita tentang ini
sesuatu yang kerap membuatku tenang akan kehadirannya
dia datang memberi tanda,
awan cerah diterangi matarahi yang berubah kehitaman yang mengisyaratkan akan datangnya hujan
dilanjutkan dengan gelegar sebuah kilatan cahaya di langit yang menakutkan bagi para astraphobia jika mereka terjebak didalamnya
beberapa saat, barulah ia turun
Hujan, ya.
sekali lagi aku ingin cerita tentang hujan yang selalu menciptakan cinta dan kedamaian.
aku termasuk salah satu orang yang selalu memandang hujan lewat sisi positifnya
bagiku dia anugrah yang diturunkan untuk membantu membawa kehidupan pada tanah2 tandus,
dan merekahnya bunga2 yang layu di musim panas.

Seperti biasa, aku menadahkan tanganku merasakan belaian air yang menjadi dingin
merasakan kesejukannya dalam setiap tarikan nafas,
bau basah hujan memang khas dan aku suka itu
kita bisa memperkirakan akan datangnya hujan lewat bau khas yang biasa ia tinggalkan
layaknya manusia yang memberi parfum pada pakaian yang dipakainya,
begitu juga hujan, ia bagaikan parfum tersendiri bagi tanah, tempat penompangnya saat jatuh.

Lepas dari itu semua, hujan juga mempunyai sisi romantis.

"hujannya deres...aku gakuat,badanku menggigil...."
dari sinilah cerita kami mulai diukir olehnya.

Motor itu melaju dengan gesit melewati ramainya Jalan Kalibata sore itu
cuaca sedang tidak mendukung hari mereka saat ini
awan mulai menampakan kegelisahannya di bulan Ramadhan, dilanjutkan dengan rintik2 halus hujan yang perlahan datang.
Aku mencoba menengadah memastikan bahwa setidaknya kami masih bisa sampai dirumah tidak dengan baju yang basah.
 "Than.....hujaan!! Gimana? neduh aja yaa......" aku harus teriak karena memang motor melaju kencang saat itu.
Mungkin orang yang diajak bicara hanya sedang memikirkan dua hal dalam otaknya. Berteduh menunggu hujan reda dan gadis yang ia bawa akan pulang malam atau meneruskan mengencangkan laju motornya dan gadis itu akan basah kuyup.
Dua. Pilihan kedua.
Fathan hanya mengiyakan permintaanku tanpa mengabulkannya. Itu payah. Yang dia inginkan saat itu hanya aku tepat waktu untuk sampai dirumah.
"pegangan aja, ati2 dingin ini agak ngebut soalnya ntar kamu pulangnya malem kalo neduh. Aku sih gapapa tapi kamunya itu" balasnya teriak.
Yayaya. Lebih cepat sampai lebih baik. Pikiran yang didera rintik hujan yang besar ini hanya memikirkan hangatnya kasur dikamar yang sedang menanti. 
Aku sekuat tenaga untuk tenang saat ini. Bukan apa2, hujan kali ini terlihat mengerikan namun aku mencoba untuk menikmatinya.
Sesekali mencuri pandangan ke kaca spion to ensure that you are okay. Maaf yaa. Sekelabat rasa kasihan datang saat itu juga.
"brr, dingiiiinn..." dengan gigi yg bergemelutukan,kaya makan es batu.
"masukin sini" nunjuk kantong jaket. 
"kamu masih kuat?kalau engga kita kerumahku aja yuk..ga jauh dari sini kok!Tapi kamu gapapa kemaleman?" dengan nada bimbang Fathan bertanya
          "iya gapapa,kasian juga kamunya..." balasku

Motor melaju pelan seiring mendekati perempatan jalan lampu merah. 
Tangan dingin ini diraihnya, tanpa sadar sudah ditariknya ke depan. dimasukan ke kedua saku jaketnya.
Lebih baik :) setidaknya itu yang aku rasakan. Senyum ini tenggelam mengiringi perjalanan yang diiringi derasnya hujan. Hingga sampai dirumahnya,dan ditemani secangkir teh hangat dengan suasana manis :)


Hujan yang mengerikan hari itu benar2 tercairkan dengan tawa. 
Tawa yang dia ciptakan untuk membuktikan cuaca kali ini masih dalam kendalinya
Dia sangat tahu gadis ini.......bagaimana cara melihatnya.....
dan dia selalu tau.......cara untuk menghadapinya :)

Terimakasih "Kamu" ♥F

Kamis, 17 Mei 2012

Aku Semestamu?

Aku tak tahu mengapa berkali-kali pertengkaran di antara kita selalu terjadi. Aku tak mengerti apa salahku dan salahmu yang selalu menghasilkan adu argumen tanpa mengerti situasi. Inikah kita yang awalnya selalu merasa memiliki kesamaan? Benarkah  semua sifat egois yang selalu meledak setiap kali kita mempertahankah pendapat?

Ada batu yang sangat keras di kepalamu dan di kepalaku. Ada aliran sungai yang begitu deras pada tutur kataku dan tutur katamu. Mengapa kita tak pernah lelah untuk mencari masalah? Mengapa aku dan kamu selalu senang menyelami jurang perbedaan?

Kita selalu merasa paling dewasa. Kita selalu merasa paling tahu apa yang ada di dunia. Keegoisan yang membuncah liar itu... amarah yang tak terkendali itu... seperti ada iblis yang memporak-porandakan isi otak kita. Sehingga tak ada kata yang tersaring dalam omongan kita. Ah... mengapa kita masih saja saling menyakiti jika kita memang saling mencintai?

Benarkah aku dan kamu telah dewasa? Jika kita masih butuh air mata untuk mencerna semua yang sulit kita mengerti. Benarkah aku dan kamu sangat siap menyatu menjadi kita? Meredam segala ego dan kemunafikan yang ada.

Sebenarnya apa yang ada di labirin otakmu dan labirin otakku? Adakah kita memikirkan kelanjutan yang sedang kita jalani ini?

Mungkin... benar kalau kita masih berjiwa bocah. Kita masih mencoba untuk dewasa. Kita masih mencoba untuk berubah. Peralihan yang paling sulit adalah saat anak ingusan menciumi titik kedewasaan. Jiwamu dan jiwaku masih terlalu lemah untuk mengerti segala hal yang disediakan dunia. Mataku dan matamu masih terlalu lelah untuk menatap segala kemungkinan yang ada.

Awalnya, kita selalu berbicara tentang kesamaan dalam diri kita. Tapi, saat pertengkaran tercipta, kita malah mengungkit perbedaan yang turut menjadi penumpang gelap dalam pelayaran kita. Inikah cara orang dewasa menyelesaikan perkara yang ada? Yakinkah kamu bahwa kita telah dewasa?

Aku benci ketika kita selalu saling menyalahkan... mencari kambing hitam dari setiap permasalahan. Aku benci ketika emosi dalam diriku dan dirimu menjadi begitu dominan saat kita tak mampu berbicara dengan kepala dingin. Aku benci! Sangat amat benci ketika kita berlaku seperti anak TK yang berebut naik perosotan di taman bermain.  Bukankah kau selalu bilang kita telah dewasa? Bukankah kita selalu berusaha bertingkah dewasa ketika bahkan kita tak mampu selalu berpura-pura menjadi dewasa.

Bukan salahku juga bukan salahmu. Ini persoalan kita! Kita yang belum siap mengerti dan menekuni arti cinta yang sesungguhnya. Ini persoalan kesiapan! Kesiapan untuk menghadapi apapun yang mengganggu langkah dan perpindahan kita. Mungkin... kita masih terlalu dini untuk mengerti apa yang terjadi. Kita masih terlalu kecil untuk mengetahui rencana besar yang Tuhan selipkan dalam pertemuan kita.

Mungkin, ini bisa jadi salahku, yang selalu tak mengerti jalan pikiranmu, yang tak terlalu memahami ucapan bibirmu. Mungkin juga ini salahmu, yang selalu memikirkan segala hal dengan logika, yang selalu mencerna banyak hal hanya dengan persepsimu. Dan... kemungkinan berikutnya... ini salah kita. Kita yang tak mampu menahan amarah. Kita yang masih belum mengerti arti bersabar yang sesungguhnya.

Ini bukan yang pertama. Ini terjadi entah-sudah-berapa-kali. Tapi, aku dan kamu selalu memutuskan untuk kembali. Aku dan kamu selalu memutuskan untuk kembali menjadi kita.

Ini seperti siklus pertemuan dan perpisahan yang sulit ditebak waktu dan kronologinya. Perpisahan yang terucap hanyalah pertemuan yang tertunda. Layaknya perpisahan, pertemuan yang tercipta hanyalah perpisahan yang bisa terjadi kapanpun.

Jika berkali-kali kita mengucap kata perpisahan, salahkah jika kita mengharapkan kembali sebuah pertemuan?
Maaf untuk pertengkaran yang lalu
Apakah aku bisa menjadi semestamu?

Aku Tak Minta Banyak Hal, Tuhan


Tuhan... selamat pagi, atau selamat siang, dan selamat malam. Aku tak tahu di surga sedang musim apa, penghujan atau kemaraukah? Ataukah mungkin sekarang sedang turun salju? Pasti indah. Kalau boleh berbincang sedikit, aku belum pernah melihat salju. Mungkin, kalau aku sudah cukup dewasa dan sudah bisa menghasilkan uang sendiri, aku akan bisa menyaksikan salju, dengan mata kepalaku sendiri.

Aku tahu Kamu tak pernah sibuk. Aku tahu Kamu selalu mendengar isi hatiku meskipun Kamu tak segera memberi pukpuk di bahuku. Aku tak perlu curiga padaMu, soal Kamu mendengar doaku atau tidak. Aku percaya telingaMu selalu tersedia untuk siapapun yang percaya padaMu. Aku yakin pelukanMu selalu terbuka bagi siapapun yang lelah pada dunia yang membuatnya menggigil. Aku mengerti tanganMu selalu siap menyatukan kembali kepingan-kepingan hati yang patah.

Masih tentang hal yang sama, Tuhan. Aku belum ingin ganti topik. Tentang dia. Seseorang yang selalu kuperbicangkan sangat lama bersamaMu. Seseorang yang selalu kusebut dalam setiap frasa kata ketika aku bercakap panjang denganMu.

Aku sudah tahu, perpisahan yang Kau ciptakan adalah sesuatu yang terbaik untukku. Aku mengerti kalau Kamu sudah mempersiapkan seseorang yang jauh lebih baik darinya. Tapi... bukan berarti aku harus absen menyebut namanya dalam doaku bukan?

Nah... kalau yang ini, aku juga sudah tahu. Dia sudah menemukan penggantiku, entah lebih baik atau lebih buruk dariku. Atas alasan apapun, aku harus turut bahagia mendengar berita itu, karena ia tak perlu merayakan kesedihannya seperti yang aku lakukan beberapa hari terakhiri ini. Seiring mendapatkan penggantiku, ia tak perlu merasa galau ataupun merasa kehilangan. Sungguh... aku tak pernah ingin dia merasakan sakit seperti yang kurasakan, Tuhan. Aku tak pernah tega melihat kecintaanku terluka seperti luka yang belum juga kering di dadaku. Aku hanya ingin kebahagiaannya terjamin olehMu, dengan atau tanpaku.

Tolong kali ini jangan tertawa, Tuhan. Aku tentu saja menangis, dadaku sesak ketika tahu semua berlalu begitu cepat. Apalagi ketika dia menemukan penggantiku hanya dalam hitung jam. Aku memang tak habis pikir. Padahal, aku sedang menikmati perasaan bahagia yang meletup pelan-pelan itu. Bukannya ingin berpikiran negatif, tapi ternyata setiap manusia punya topengnya masing-masing. Ia berganti-ganti peran sesukanya. Sementara aku belum cukup cerdas untuk mengerti wajah dan kenampakan aslinya. Aku hanya melihat segala hal yang ia tunjukkan padaku, tanpa pernah tahu apa yang sebenarnya ada dalam hatinya.
Aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Bagaimana hubungannya dengan kekasih barunya. Aku tak terlalu ingin mengurusi hal itu. Aku yakin dia pasti bahagia, karena begitu mudah mendapatkan penggantiku. 

Aku percaya dia sedang dalam titik jatuh cinta setengah mati pada kekasih barunya, dan tidak lagi membutuhkan aku dalam helaan napasnya. Permintaan yang sama seperti kemarin, Tuhan. Jagalah kebahagiaannya untukku. Bahagiakan dia untukku. Senyumnya adalah segalanya yang kuharapkan. Bahkan, aku rela menangis untuknya agar ada lengkungan senyum di bibirnya. Aku ingin lakukan apapun untuknya, tanpa melupakan rasa cintaku padaMu. Aku memang tak menyentuhnya. Tapi... dalam jarak sejauh ini, aku bisa terus memeluknya dalam doa.

Pernah terpikir agar aku bisa terkena amnesia dan melupakan segala sakit yang pernah kurasa. Agar aku tak pernah merasa kehilangan dan tak perlu menangisi sebuah perpisahan. Rasanya hidup tak akan terlalu rumit jika setiap orang mudah melupakan rasa sakit dan hanya mengingat rasa bahagia. Namun... aku tahu hidup tak bisa seperti itu, Tuhan. Harus ada rasa sakit agar kita tahu rasa bahagia. Tapi, bagiku rasa sakit yang terlalu sering bisa membuat seseorang menikmati yang telah terjadi. Itu dalam persepsiku lho, Tuhan. Kalau pendapatMu berbeda juga tak apa-apa.

Aku memang tak perlu meratap, karena sepertinya ia bahagia bersama kekasih barunya. Ia pasti telah menemukan dunia baru yang indah dan menyenangkan. Aku turut senang jika hal itu benar, kembali pada bagian awal, Tuhan. Aku tak pernah ingin dia merasakan sakitnya perpisahan, seperti yang aku rasakan.

Akhir percakapan, aku tidak minta agar dia segera putus dari kekasihnya, atau hubungan mereka segera kandas di tengah jalan. Aku hanya minta agar ia sembuh dari maag akutnya. Agar ia terhindar dari vertigo parahnya. Agar muntah darahnya berhenti ketika tubuhnya kelelahan. Semoga kekasihnya mengerti betul penyakitnya seperti aku mengerti rasa sakitnya.

Kembali pada bagian awal. Aku hanya ingin ia bahagia. Cukup.

Oleh :Dwitasari

Minggu, 13 Mei 2012

Aku mencintaimu karena Allah

Ajari aku cinta untuk bersabar..
Untuk menemukan Imam yang benar..
Untuk menjaga segala kemuslimahanmu..
Mengangkat derajat keimananku..
Serta membawaku dalam Indahnya agama Allah..

Ajari aku cinta untuk bertahan..
Pada kebaikan..
Pada keistiqomahan..
Pada Indahnya sendiri tanpa sentuhan haram..
Pada keindahan Cinta yang selalu terpendam..

Ajari aku cinta..
Seperti Para makhluk Tuhan yang selalu berdzikir..
Seperti Hamba-hamba Tuhan yang selalu berfikir..
Di jauhkan dari manusia-manisa kafir..
Dan selalu ada dalam kerendahan hati tanpa kikir..
Ajari aku Cinta..

Aku ingin memilikimu karena TuhanMu, Allah..
Aku ingin menjadi pendampingmu karena Ajaran TuhanMu, Allah..
Aku ingin mencintai dan melengkapai kehidupanku juga hanya ada di jalan TuhanMu, Allah..
Demi Cintaku padamu, Karena Allah..
Hanya Karena TuhanMu, Allah..
Jadilah Imamku yang sempurna..
Yang selalu mencari cinta di jalan TuhanMu, Allah..
Untukmu Yang akan menjadi Imamku..

Rabu, 02 Mei 2012

I'm a wonder woman!

Seringkali aku terpaksa menikmati kesepian, bukan karena aku ingin,tapi memang harus kulakukan..
Rasanya seperti lapar yang menggerogoti lambung namun tak ada satu makanan pun yg bisa dicerna,kosong...hampa...

Sebenarnya hubungan Jarak Jauh ini bukanlah beban bagiku,aku menikmatinya..sebab tak semua orang merasakan hal yang sama sepertiku..tidak semua orang merasakan video call setiap malam,tidak semua org merasakan betapa kuatnya rindu ini untuknya,tidak semua orang bisa merasakan saat kita kangen dan hrs ketemu, padahal jarak tempuhnya lumayan jauh,tidak semua org merasakan ketika kita kangen, kita hanya diam memejamkan mata membayangkan senyum kecilnya,tidak semua orang bisa merasakan khawatir disaat pasangan kita ga ada kabar,tidak semua org bisa merasakan, "kita seringkali menyesali perdebatan2 itu, krn itu akan membuat waktu komunikasi sia2",tidak semua org merasakan betapa sangat berartinya sebuah pertemuan sesingkat apapun itu, tidak semua org merasakan saat detik-detik berpisah, ada keresahan yang begitu besar. takut kehilangan....


Ya seperti inilah LDR ada kebahagiaan tersendiri saat detik-detik bertemu dan kebahagiaan itu tak semua org bisa merasakannya hubungan yg unik.
Merasakan sebuah kerinduan yang tak selalu bisa ditumpahkan, Rindu memang selalu jahat, terkadang dipenjara waktu dan dibebaskan pada waktu yg tepat pula.


Dan saat ini aku pergi dan aku membawa hati yg telah kita miliki dan suatu saat akan ku kembalikan dengan hati yg sama bahkan lebih..

Merasa kehilangan?ya tentu pernah..apalagi jika setiap harinya kita selalu bersama, namun dari jarak ini aku belajar berusaha tanpamu sejenak,hingga nanti kita melumpuhkan rindu kembali..
Aku juga masih sanggup melakukannya dengan sendiri meskipun tak sepenuhnya aku mengandalkanmu di sana.

Dan walaupun kau jauh,banyak cara yg membuat aku selalu mengingatmu,selalu merasa kau disampingku..
Aku semprot parfum yang kamu pake di kamarku itu berasa kamu ada di sini,aku meluk boneka dari kamu biar aku ngerasa kaya meluk kamu,aku dengarkan lagu yang sering kau nyanyikan sebelum aku tidur,tertawa walau tak secara langsung,menatap fotomu di wallpaper handphoneku...

Ya inilah ritual baruku untuk melepas sedikit rindu bersamamu...dan saat ini aku hanya bisa menjaga hatiku untukmu, tak ada batas menunggumu. Hal yg sederhana.....