sesuatu yang kerap membuatku tenang akan kehadirannya
dia datang memberi tanda,
awan cerah diterangi matarahi yang berubah kehitaman yang mengisyaratkan akan datangnya hujan
dilanjutkan dengan gelegar sebuah kilatan cahaya di langit yang menakutkan bagi para astraphobia jika mereka terjebak didalamnya
beberapa saat, barulah ia turun
Hujan, ya.
sekali lagi aku ingin cerita tentang hujan yang selalu menciptakan cinta dan kedamaian.
aku termasuk salah satu orang yang selalu memandang hujan lewat sisi positifnya
bagiku dia anugrah yang diturunkan untuk membantu membawa kehidupan pada tanah2 tandus,
dan merekahnya bunga2 yang layu di musim panas.
Seperti biasa, aku menadahkan tanganku merasakan belaian air yang menjadi dingin
merasakan kesejukannya dalam setiap tarikan nafas,
bau basah hujan memang khas dan aku suka itu
kita bisa memperkirakan akan datangnya hujan lewat bau khas yang biasa ia tinggalkan
layaknya manusia yang memberi parfum pada pakaian yang dipakainya,
begitu juga hujan, ia bagaikan parfum tersendiri bagi tanah, tempat penompangnya saat jatuh.
Lepas dari itu semua, hujan juga mempunyai sisi romantis.
"hujannya deres...aku gakuat,badanku menggigil...."dari sinilah cerita kami mulai diukir olehnya.
Motor itu melaju dengan gesit melewati ramainya Jalan Kalibata sore itu
cuaca sedang tidak mendukung hari mereka saat ini
awan mulai menampakan kegelisahannya di bulan Ramadhan, dilanjutkan dengan rintik2 halus hujan yang perlahan datang.
Aku mencoba menengadah memastikan bahwa setidaknya kami masih bisa sampai dirumah tidak dengan baju yang basah.
"Than.....hujaan!! Gimana? neduh aja yaa......" aku harus teriak karena memang motor melaju kencang saat itu.Mungkin orang yang diajak bicara hanya sedang memikirkan dua hal dalam otaknya. Berteduh menunggu hujan reda dan gadis yang ia bawa akan pulang malam atau meneruskan mengencangkan laju motornya dan gadis itu akan basah kuyup.
Dua. Pilihan kedua.
Fathan hanya mengiyakan permintaanku tanpa mengabulkannya. Itu payah. Yang dia inginkan saat itu hanya aku tepat waktu untuk sampai dirumah.
"pegangan aja, ati2 dingin ini agak ngebut soalnya ntar kamu pulangnya malem kalo neduh. Aku sih gapapa tapi kamunya itu" balasnya teriak.Yayaya. Lebih cepat sampai lebih baik. Pikiran yang didera rintik hujan yang besar ini hanya memikirkan hangatnya kasur dikamar yang sedang menanti.
Aku sekuat tenaga untuk tenang saat ini. Bukan apa2, hujan kali ini terlihat mengerikan namun aku mencoba untuk menikmatinya.
Sesekali mencuri pandangan ke kaca spion to ensure that you are okay. Maaf yaa. Sekelabat rasa kasihan datang saat itu juga.
"brr, dingiiiinn..." dengan gigi yg bergemelutukan,kaya makan es batu.
"masukin sini" nunjuk kantong jaket.
"kamu masih kuat?kalau engga kita kerumahku aja yuk..ga jauh dari sini kok!Tapi kamu gapapa kemaleman?" dengan nada bimbang Fathan bertanya"iya gapapa,kasian juga kamunya..." balasku
Motor melaju pelan seiring mendekati perempatan jalan lampu merah.
Tangan dingin ini diraihnya, tanpa sadar sudah ditariknya ke depan. dimasukan ke kedua saku jaketnya.
Lebih baik :) setidaknya itu yang aku rasakan. Senyum ini tenggelam mengiringi perjalanan yang diiringi derasnya hujan. Hingga sampai dirumahnya,dan ditemani secangkir teh hangat dengan suasana manis :)
Hujan yang mengerikan hari itu benar2 tercairkan dengan tawa.
Tawa yang dia ciptakan untuk membuktikan cuaca kali ini masih dalam kendalinya
Dia sangat tahu gadis ini.......bagaimana cara melihatnya.....
dan dia selalu tau.......cara untuk menghadapinya :)
Terimakasih "Kamu" ♥F
Tidak ada komentar:
Posting Komentar