Rabu, 19 November 2014

Senja Tanpa Jingga





Saya tak paham budaya Roma, tapi semenjak memasuki kehidupanmu saya bagai Caesar tak berkuda.

Tak ada batu sekeras isi kepalamu. Meski saya tahu hatimu lembut selembut kapas tak berdebu. Andai kamu jeli sedikit, sebagaimana hati tak berkedip, pasti kamu sadar bahwa ada banyak rindu yang kukatakan dengan bercanda. Karena kehidupan kita memang tak pernah bisa serius seperti pergelaran colosseum di Roma.

Kini, aku mengarah pada ketiadaan. Tentang rasa bimbang yang ingin aku curahkan kepada keadaan. Dari yang tak pernah terlewatkan, aku belajar memahami kepergian dari orang yang jarang sekali aku temukan. Aku belajar tentang makna melepaskan,
Jujur, aku kehilangan zat penawar yang ada pada di dirimu di kala aku dimabuk rindu.  Kamu patut tahu itu. Tiap kamu perlahan menjauh, ada sesuatu yang perlahan ikut jatuh, dan itu adalah mimpi-mimpiku yang terbias runtuh.

Nanti, jika ada yang harusnya dikorbankan untuk jadi alasan pertemuan, semoga bukan perasaan kita yang sewaktu-waktu ingin dikembalikan.
Kamu pernah menjadi tempat curhat yang teduh, kamu juga pernah menjadi tempat berharap yang teguh, dan juga pernah menjadi penenang di jiwa yang begitu rapuh.

Tanpamu, senja akan tetap sama. Pucat pasi tak ada jingga.

Reblogged : gipacksaputra

Minggu, 14 September 2014

La Tahzan, Jadilah Wanita yang Paling Bahagia

Sekali lagi air mata itu tumpah, bagai melegakan hati pemiliknya.

Wanita,
Kadangkala diuji dengan sehebat-hebat ujian.
Fisiknya lemah tapi batinnya gagah anugerah Tuhan.

La tahzan.

Optimislah dengan ujian. Itu hadiah Tuhan.
Bersyukurlah. Beruntunglah.
Dari jutaan, engkau pilihanNya.

Kita rasa kitalah yang besar ujiannya. Kita rasa kitalah paling berat bebanannya.
Ayolah. Ada orang lagi besar ujiannya. Lagi berat bebanannya.
Jangan merungut sayang. Jangan mengeluh walau sedetik.
Kita milik Dia. Dulu, Kini. Dan selamanya.
Maka Dia berhak menentukan yang sebaiknya buat kita.
Bukan hanya di dunia. Bahkan hingga ke akhirat.

Jalan takdir Allah tak pernah salah.
Berbaik sangkalah dengan aturanNya.
Jika perlu untuk engkau menangis, maka menangislah.
Tapi sayang, jangan terlalu bersedih.
Itu terlihat seperti kita kurang ridha dengan apa yang Allah aturkan.
Takdir Allah adalah sesuatu yang tidak dapat kita perkirakan.
Mukjizat Allah pasti akan datang. Pasti.
Engkau harus percaya.
Ya, percaya.

La tahzan.
Syurga itu mahal sayang, tidak mudah kita mendapatkannya.
Walaupun orang-orang selalu berkata, hal yang kita dapatkan susah payah dengan materi itulah yang benar-benar kita harus hargai.
Dan kita pasti sangat bahagia bila mendapatkannya.
Itu pasti.
Senyum.

Tapi terkadang ada saatnya kita jatuh.
Tak mampu kita untuk bangun.
Tapi, ingatlah. Walau apa pun yang terjadi, Allah akan tetap menemani.
Just beside you.
Selalu.
Allah sembuhkan luka di hati kita.
Perlahan. Perlahan.
Inilah hadiah buat hambaNya yang bertabah!
Air Mata.

InsyaAllah, bila Allah ridha, Allah akan mudahkan.
Tak mudah. Siapa bilang mudah?
Tapi inilah kasih sayangNya.
Berdamailah dengan takdirNya.
Dan sampai masa kita sudah faham, hal-hal yang memang sudah tertulis akan terjadi.
Dan tertulis di Lauh Mahfuz.
Tetaplah sabar dan ridha dengan aturanNya.

Bukalah surat cinta dariNya.
Pasti akan damai hatimu.

” Maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku)” [Yusuf: 18]

La tahzan. Hapuslah air matamu.
Allah ada.
Allah tahu.

“Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah Mengetahui segala isi hati.” [Al-Maidah:7]

Dan ingatlah,

“Kebahagiaan kita tidak terletak pada harta, tidak pada penampilan diri, tidak juga pada gemerlap perhiasan dan keindahan dunia. Ukuran kebahagiaan terkait erat pada hati dan ruh manusia yang mendamba ridha Tuhannya.” -Hasan Al-Banna-

La tahzan,
Jadilah wanita yang paling bahagia! :)

Senin, 11 Agustus 2014

Lalu, Mau Kemana Kita?

Berlalu tanpa huruf, angka, apalagi kata. Kamu adalah sebesar-besarnya tanda tanya.

Entah rasanya aku percuma diajarkan membaca sewaktu duduk di bangku taman kanak-kanak, karena hingga sampai saat ini aku benar-benar tidak pernah bisa membaca arah tujuan kita.

Andai saja waktu itu aku yang lugu benar-benar diajari caranya berlari, mungkin aku tidak akan diam berdiri memilih bertahan atau pergi.

Hubungan kita memang tak kenal waktu, terus menggebu melumat sendu.
Segalanya merunduk pada teduh, tanggalkan semua gaduh, menyisakan hatimu padaku yang tak pernah luluh.

Aku tahu, kita sama-sama takut kehilangan tapi tak pernah berani mengambil keputusan.

Ada persimpangan jalan yang tak bisa kita lalui.
Ada hati yang tak bisa sama-sama kita sakiti.
Ada secercah wajah cerah namun terus dihantui pucat pasi.
Ada ruang-ruang kosong di antara kita namun tak pernah bisa kita isi.
Apakah hatimu adalah teka-teki silang di luar batas nalar manusia biasa?


Begitu datarkah sapa yang kuretas sehingga aku tak bisa membuka mata hatimu yang hilang dalam kesenyapan masa?

Maaf, jika aku hanya bisa menghidangkan sebuah kebimbangan. Di satu sisi ruang hati, padahal kita sama-sama ingin menghadirkan sebuah pelangi di ujung jalan. Menengahi setiap pagi tanpa sebuah pertanyaan;


Lalu Mau kemana kita? -

Jumat, 16 Mei 2014

Kadang.....

Entah siapa yang menyakiti siapa. Selalu ada saja salah satunya yang bertahan sekuat tenaga untuk terus memegang asa.

Kadang ada fase di mana kamu menjadi bodoh atau merasa terbodohi dengan masa lalu yang telah kamu lewati. Menjadi sadar, itu adalah fase tersulit setelahnya. Mabuk memang, begitulah yang disebut cinta. Karena katnya jatuh cinta itu seperti minum vodka. Murni, memabukan dan sebetulnya tidak baik jika berlebihan. 

Seperti kita, seperti harapan kosong, pada tong yangmelompong. Berharap terus terisi, entah oleh mimpi, atau entah ilusi.

Sulit dicerna? Baiknya kamu minum susu, lalu tidur sebelum jam 9 malam. Semoga kelak mimpi kamu yang tak pernah terwujud itu mampu membawa kepada cita cinta kamu yang tertinggi. Yang ku tahu susu memang minuman penawar paling ampuh di dunia ini. Cintaku? Tak usahlah kamu tawar selagi aku tak menggadaikannya ke orang lain.

Aku masih berurusan dengan rindu, kala semuanya yang harus dituntaskan, tiba-tiba kamu pergi meninggalkan pilu. Semua sama saja dengan iringan omong kosong yang mengudara. Jika kamu bilang cintaku ini gila, aku hanya bisa mengangguk seadanya. 

Bukankah dahulu kamu juga merasakan hal yang sama? Bedanya kamu sadar lebih dulu sedangkan aku belum. Tapi ku percaya bahwa semua orang akan berubah pada waktunya, datang dan pergi hanya soal waktu. Dan aku adalah kaki-kaki yang pergi; sembunyi dari jejaknya sendiri.

Rabu, 09 April 2014

Percaya, Ini Nyata

Suatu hari nanti kalian semua akan jatuh cinta tanpa dibuat-buat.

Tanpa perasaan posesif kekanak-kanakan atau rasa ingin pamer kasih sayang yang berlebihan

Akan kalian temui seseorang yang membuat kalian jatuh hati tanpa alasan

Yang membuat kalian tidak peduli pada jutaan omong kosong soal sakitnya patah hati

Yang membuat kalian sudi menjadi diri kalian sendiri

Tidak dengan ucapan manis atau perilaku yang pura-pura

Kalian akan jatuh cinta dengan seadanya tapi juga dengan segalanya

Kalian akan jatuh cinta dan berani mempertanggung jawabkannya

Bukan dengan pujian palsu atau rasa kagum yang sesaat

Tapi dengan tatap mata dan rasa saling percaya

Seseorang tersebut mampu membuat kalian jatuh cinta tanpa alasan

Yang akan kalian jadikan prioritas

Bukan sekedar kalian banggakan di social media tapi kalian bohongi di kehidupan nyata

Suatu hari nanti kalian akan bertemu seseorang yang akan mendengarkan cerita kalian di sisa hidupnya

Yang membuat kalian paham benar apa itu arti kata sayang

Yang membuat kalian tidak sabar untuk menghabiskan hari tua bersama..

Tanpa ragu

Tanpa sempat berpikir untuk berpindah ke lain hati

Sabtu, 08 Februari 2014

Jatuh Pada yang Tiada

Tidak pernah aku sebegininya jatuh cinta pada tiada. Belum pernah aku sebegininya memiliki rasa untuk dia yang tidak pernah aku jumpa. Belum pernah sebelumnya.


Kini aku merasakannya, mengalaminya dan sedang menjalankannya. Jatuh cinta pada tiada. Pada dia yang belum pernah aku jumpa.


Silahkan tertawa. Silahkan berceloteh apa saja. Ini benar adanya. Ini nyata sakitnya. Sakit. Sakit sekali rasanya.


Bagaimana bisa aku merasa memiliki apa yang tak ada. Bagaimana bisa aku merasa takut kehilangan jika aku sendiri belum memilikinya.


Aku tergesa-gesa dalam menjatuhkan rasa, maka aku harus terima sakit karenanya. Mungkin aku memang tergesa-gesa tapi rasa itu bukanlah aku yang menciptanya. Bukan pula aku yang mengontrolnya.


Aku jatuh cinta. Aku mengharapnya. Aku menunggunya. Entah sampai kapan selama rasa ini ada. Aku mencintai dia yang belum nyata dihariku.


Aku menunggu dia yang tak tahu kapan kan ada wujud nyatanya.


Benar aku jatuh cinta pada tiada. Cinta yang tak tahu apakah juga hadir di seberang sana.

Aku mencintai dia.... 

Sangat mencintai dia.... 

Aku merindukannya.....

Aku menunggunya......

Aku mencintainya.....

Terinspirasi dari sahabat lama :)