Jumat, 23 November 2012

I miss this Moment (w/ you)


Aku merindukan waktu
Ketika tanganmu menggandeng tanganku
Memanduku menuju taman penuh warna

Aku merindukan waktu
Ketika bibirku merekah ceria oleh warna-warni segala rupa
"Semua ini boleh menjadi milikmu, pilih saja yang kamu suka atau bahkan semuanya.. Kamu akan melihat teman-temanmu memandang kagum kepadamu" begitu ujarmu dengan rupa layaknya peri pelindungku, penyemangatku, yang akan selalu menemaniku dan mendampingiku tumbuh

Aku merindukan waktu
Ketika aku bebas tertawa lepas bersama candamu
Merangkulmu
Memujamu

Aku merindukan waktu
Ketika kamu membuatku takut dengan amarahmu
Jika aku berbuat salah atau jika aku tak mau menurut kepadamu

Aku merindukan waktu
Ketika aku mulai bercerita tentang tubuhku yang mulai berubah
Lalu kamu mulai menjelaskan dengan binar gembira
Memberitahuku bahwa aku mulai beranjak remaja

Aku merindukan waktu
Ketika aku mulai bercerita tentang cinta
Kamu lalu tersenyum menggoda
Berkata bahwa aku mulai mengenal apa yang dinamakan "cinta monyet" pertama

Aku merindukan waktu
Ketika kamu mulai melihatku dewasa
Berbagi cerita yang tak lagi tentangku melainkan tentang kamu

Aku merindukan waktu
Ketika kamu mulai memandangku sebagai sahabat erat
Bukan lagi gadis kecil yang kamu manja

Aku merindukan waktu
Ketika kita mulai berjalan berdampingan layaknya teman lama
Tak terlihat lagi batasan usia
Dan aku semakin memujamu
Menjadikan kamu sebagai pedoman langkahku menuju kedewasaan

Aku merindukan waktu
Ketika ibu tersenyum bahagia
Melihatku dan kamu seolah tidak mau terpisahkan
Melihat satu putri hatinya yang berbagi satu jiwa

Namun aku mulai kehilangan waktu
Ketika kamu mulai berubah

Aku kehilangan waktu
Ketika tak terlihat lagi senyum bangga di wajahmu ketika menatapku

Aku kehilangan waktu
Ketika kamu mulai menganggapku sebagai hama pengganggu
Tak lagi penting bagimu

Aku kehilangan waktu
Ketika kamu semakin jauh
Tak lagi bisa aku sentuh
Tak lagi bisa aku rengkuh

Aku kehilangan waktu
Ketika aku kehabisan alasan untuk memujamu
Ketika kamu tak lagi seperti  penjagaku

Aku semakin kehilangan waktu
Ketika aku tak lagi mengenal sosokmu
Ketika hanya ada pertengkarang dan gumam kebencian di setiap waktu

Aku benar-benar kehilangan waktu
Ketika aku kehilangan kamu
Ketika kamu bukan lagi dirimu yang dulu
Ketika hatiku terasa patah oleh perubahanmu

Aku tahu aku telah kehilangan waktu
Ketika kulihat air mata ibu saat memandang aku dan kamu

Aku tahu aku sangat merindukan waktu
Ketika aku sangat merindukan kamu yang dulu
Merindukan penjagaku yang begitu aku puja

Aku tahu sangat ingin kembali ke waktu itu
Karena aku sangat menginginkan kamu
Inginkan kita kembali seperti dulu...


:')

Selasa, 13 November 2012

Rindu, apakah itu kamu?

Malam ini tak ada yang bisa kulakukan, ingin rasanya terlelap berada dalam mimpi-mimpi indah malam ini.. Tapi ntah apa yg membuatku begitu sulit memejamkan mata sejenak.. Aku teringat Hujan hari ini, ya lagi-lagi hujan...


Pagi tadi, sedikit ku dengar percakapan hujan dari balik pintu jendela. Dan kamu tahu apa kata hujan tentang kita?


Sedikit yang terekam dari asa, mereka melihat kita bagaikan seorang masinis tanpa kereta. Masinis yang ingin selalu melaju dengan jalan pikiran yang selalu terbuka.


Dan aku, aku hanya bisa mengamini setiap apa kata hujan bercerita. Itu fakta, dan apadaya itulah kita.
Jalan itu begitu jelas di depan mata, meskipun kadang sedikit kerikil mampu mengganggu jalannya gerbong kereta. Itu kita, kita adalah gerbong kereta yang saling terikat dan kurang begitu paham makna akan cinta.


Ibarat kereta, kita adalah kereta yang tak bermesin tapi ingin selalu cepat sampai ke tujuan. Tujuan akhir dari segalanya yang orang-orang dambakan. Kita terlupa, masih ada jutaan rindu yang harus dibebankan. Masih ada amin di setiap perjalanan yang akan kita tuju berdua.


Intinya, hujan tadi pagi mengisyaratkan akan rindu bertemunya kedua mata. Mengajarkan akan suatu kesalahan yang ditanggapi dengan kesalahan berikutnya karena arogansi, emosi, dan sulut provokasi sering membuat yang awalnya benar menjadi kalimat semata yang terus pudar.


Hujan saja begitu hafa caral bagaimana mereka menjatuhkan diri meski ribuan orang kadang mencaci. Mereka tak peduli berdansa meski aluran petir yang terkadang meledak membahana.
Memang begitulah seharusnya kita.


Oh iya, sebelum hujan tadi tiba, mendung juga telah bercerita tentang gelap yang tak selalu diakhiri dengan air mata.


Begitu juga kita, bahwa rindu tak harus selalu diawali dengan sebuah kata derita.

Senin, 12 November 2012

Stay? Why?




Kalau ada yang bilang menggapai sesuatu itu sulit, pantas lah dia untuk tak pernah merasakan bagaimana rasanya mempertahankan itu lebih sulit daripada mendapatkan


Terkadang, orang butuh sejuta alasan untuk bertahan. Tapi tak sedikit pula yang cukup berdiri tegar meski hanya mendengar satu ucapan. Setiap cucu adam yang bernyawa pasti tahu bahwa perputaran itu selalu ada, tapi tetap saja selalu tak mudah untuk selalu siap bila mendengar kata perpisahan.


Kepala ini sering tertunduk dengan tatapan tajam tanpa pikiran. Meskipun kadang, kamu selalu mampir di sana meski hanya segelintir. Yang dirasa? Getir.


Kadang aku tak mengerti, apakah aku yang tidak cukup berusaha meraihnya, atau jalan menuju ke sana yang terlalu rumit? Ya, aku sedang berbicara tentang hatimu. Jika kamu memang punya perasaan yang sama denganku, mengapa bisa serumit ini?


Di dalam pikiran rumit itu pula aku menemukan mu di waktu lalu. Di waktu saat senyum kita terlempar tanpa malu. Tanpa pandang saling tahu bahwa kita saling mengagumi mengaggumi sejak dulu.


Kenapa ku tahu bahwa aku mengaggumi mu? Karena aku tahu, tiap kali aku masuk kamar dan mematikan lampu. Ada siluet wajahmu yang terbentuk dan merefleksi dalam kalbu.


Aku sulit bernafas. Itu dulu, dan selalu begitu.


Sampai pada akhirnya, suatu waktu kian terus berlalu. Senyum itu kadang berubah wujud menjadi pilu. Dengan degup jantung yang terasa membuat tulang rusuk ini begitu ngilu.


Perasaan yang dulu membuatku tersipu malu, seakan pergi terbang tersapu waktu.

Ah, aku melangkah terlalu jauh. Sebab, yang aku tahu kamu memang tak begitu mengerti akan intonasi nada jantung yang begitu menggebu-gebu. Dengan perasan kalut dan nafas yang terus memburu ruang sesak paru-paru.


Kamu, adalah alasan aku untuk bertahan. Dengan perasaan yang tak ingin pergi meski hanya perlahan. Percayalah, yakini hatiku bahwa menggapai mu itu sama sulitnya dengan mempertahankan mu. Meski hanya dengan satu ucapan atau sejuta alasan. Aku mau, kita terjaga dalam satu harapan.


Kita-

Kamis, 08 November 2012

Tatapan Mata Paling Kosong



Hai tatapan mata paling kosong yang terkasihi.


Tahukah kamu?


Di antara kedua mata itu aku luluh berserakan tatkala menahan senyum yang datang tiap kali rindu memaksa untuk menatapnya.


Entah cuma tatapan matamu saja yang kosong atau perhatianmu juga mengikutinya. Sebab yang ku tahu, tiap kali aku bertanya pada bagian ruangan itu, selalu ada gema kata yang tak terbalas. Selalu ada percakapan yang tak ingin kamu bahas.


Aku menunggu, menunggu bibir tipismu bergerak mengucap sebuah kata rindu. Seperti yang selama ini aku lakukan ketika remah hati berserakan karena terlalu banyak menunggu.


Perlahan tapi pasti, seluruh dirimu mulai merajai tubuh ini. Dengan gengsi yang patah terkalahkan akan rasa yang ingin dikasihi.


Ya, aku suka cara matamu menatap harapan dan menyandingkannya dengan keyakinan. Karena yakin adalah tujuanku.


Aku tak mau terlalu dini untuk kehilangan kamu.
Sebab ada damba yang tak ingin lepas, ada rindu yang tak ingin kandas, dan ada perhatian yang ingin dibalas.


Ada rentetan huruf yang belum ku-eja. Tersimpan dalam buku waktu yang terus ku jaga. Kutelusuri satu per satu halamannya hingga halaman terakhir bahwa kita adalah jawabannya.


Semalam, adalah satu dari sekian banyak hari yang terus terang sangat menarik dan menghiburku di dunia nyata. Kamu pujaan, dengan bangga telah menjatuhkan lagi hati ke seseorang. Dan akulah orang tersebut.


Kamu tahu?


Saat kamu berada jauh di garis waktu, sekejap jarum jam tak ubahnya seperti belati. Setiap detiknya menghunjam jantungku berkali kali.

Kutemukan Kamu



Pagi ini, aku bertegur sapa dengan waktu. Menatap tajam ke arahnya yang begitu cepat berlalu. Sedikit terhirup aroma debu yang selalu mengganggu.


Tapi tidak lupa ku ucapkan terimakasih untuk hangat sapa pagi, renyah senyuman dan cerah harapan yang terpendar sejak aku duduk terdiam seperti terdampar.


Dalam sesak ruang kamar, yang selalu jadi saksi jutaan cerita ketika mata ini terus terbuka. Dalam ribuan angka yg patah satu-satu dari sebuah kalender tua. Serta dalam ucapan tanpa suara, dan pukulan ribuan tanpa doa.


Aku pernah berjanji, tiap pukulan itu harus jadi tempat paling nyaman untuk ku jadikan tumpuan. Karena aku percaya, bahwa bahagia itu penuh teorema. Harus ada sebuah perjalanan di setiap sinopsis cerita. Dan harus ada rangkaian derita untuk melengkapkan sebuah kata cinta.


Sampai akhirnya ku temukan kamu dengan hati yang tak berpenghuni. Mencoba untuk menghampiri meski kamu penuh sunyi.


Ku titipkan sebuah doa. Satu doa tulus yang ku harap tak akan sia-sia, bermakna lebih dari sekadar harapan dan impian yg terjaga. Sebab ada hangat yang mengemuka, saat kita terlupa ketika saling berbagi cerita.


Ya, aku tahu masih banyak hari lagi menanti. Besok atau lusa nanti, kita bertemu menguji kepatuhan janji.


Karena perjalanan baru saja bermula. Di setiap hulu jejakmu, akan kucari rindu. Dan hatimu lah muara untuk kita bertemu.


Tapi… jika aku harus terjatuh lagi, ingatkan aku akan pukulan tanpa doa tadi yang meski harus terus ku cari.

Rabu, 07 November 2012

Tak Mungkin Berlanjut (lagi)


Bersama mendung yang bergelajut ku dahului hujan dengan titik airmata yang tak lagi mampu kebendung lajunya


Bersama mendung yang menghitam kubuka kunci hati yang beberapa  waktu ini mengurung rinduku demi egoku

Bersama langit yang kian memburam ku akui aku rindu kamu

Aku kehilangan kamu

Aku ingin mendengar lagi suara canda dan tawamu

Juga luapan amarahmu

Entah disana kamu bisa merasakan gemuruh rasa yang berkecamuk di hati ini atau tidak

Yakinku kamu pasti tahu
Yakinku kamu pasti mengerti

Beratnya rasa yang tertahan

Bukan karena gengsi ataupun ego diri

Tetapi demi janji yang terucap untuk saling mengakhiri sesuatu yang tak lagi bisa dipaksakan

Agar tak lagi ada yang tersakiti

Aku ingin membenci kamu, memaki kamu, menghapus kenangan tentangmu

Aku ingin mengingat semua kata-kata kasarmu yang kau ucap untuk membuatku benci

Tapi yang terjadi diri ini hanya diam dan mengiba pada Tuhan tuk mengubah takdir

andai saja itu mungkin

Satu sadar yang kumengerti

Kuterima ini dengan pedih

Takdirku hanya sampai disini
Takdir kita telah terhenti di titik ini

Kisah ini pun mungkin tak akan pernah berlanjut lagi...