Senin, 12 November 2012

Stay? Why?




Kalau ada yang bilang menggapai sesuatu itu sulit, pantas lah dia untuk tak pernah merasakan bagaimana rasanya mempertahankan itu lebih sulit daripada mendapatkan


Terkadang, orang butuh sejuta alasan untuk bertahan. Tapi tak sedikit pula yang cukup berdiri tegar meski hanya mendengar satu ucapan. Setiap cucu adam yang bernyawa pasti tahu bahwa perputaran itu selalu ada, tapi tetap saja selalu tak mudah untuk selalu siap bila mendengar kata perpisahan.


Kepala ini sering tertunduk dengan tatapan tajam tanpa pikiran. Meskipun kadang, kamu selalu mampir di sana meski hanya segelintir. Yang dirasa? Getir.


Kadang aku tak mengerti, apakah aku yang tidak cukup berusaha meraihnya, atau jalan menuju ke sana yang terlalu rumit? Ya, aku sedang berbicara tentang hatimu. Jika kamu memang punya perasaan yang sama denganku, mengapa bisa serumit ini?


Di dalam pikiran rumit itu pula aku menemukan mu di waktu lalu. Di waktu saat senyum kita terlempar tanpa malu. Tanpa pandang saling tahu bahwa kita saling mengagumi mengaggumi sejak dulu.


Kenapa ku tahu bahwa aku mengaggumi mu? Karena aku tahu, tiap kali aku masuk kamar dan mematikan lampu. Ada siluet wajahmu yang terbentuk dan merefleksi dalam kalbu.


Aku sulit bernafas. Itu dulu, dan selalu begitu.


Sampai pada akhirnya, suatu waktu kian terus berlalu. Senyum itu kadang berubah wujud menjadi pilu. Dengan degup jantung yang terasa membuat tulang rusuk ini begitu ngilu.


Perasaan yang dulu membuatku tersipu malu, seakan pergi terbang tersapu waktu.

Ah, aku melangkah terlalu jauh. Sebab, yang aku tahu kamu memang tak begitu mengerti akan intonasi nada jantung yang begitu menggebu-gebu. Dengan perasan kalut dan nafas yang terus memburu ruang sesak paru-paru.


Kamu, adalah alasan aku untuk bertahan. Dengan perasaan yang tak ingin pergi meski hanya perlahan. Percayalah, yakini hatiku bahwa menggapai mu itu sama sulitnya dengan mempertahankan mu. Meski hanya dengan satu ucapan atau sejuta alasan. Aku mau, kita terjaga dalam satu harapan.


Kita-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar