Jumat, 15 November 2013

Pemilik Rindu

Wahai pemilik rindu....
Melihat kedua matamu, aku merasa seolah kita pernah saling bertatap lama


Meski kita tak sekalipun pernah berjumpa..
Tatapan itu, seolah aku dan kamu pernah saling berbicara melalui sorot mata..


Kini ada lain yang juga aku rindu darimu
Yakni sorot mata itu.. 


Kerinduanku pada tatapanmu..
Wahai pemilik rindu...


Tuntaskanlah segala kerinduanku akanmu..
Secepat kamu mampu...



*untukmu yang masih jauh dan kutunggu..

aku rindu... sangat

Rabu, 13 November 2013

Kita...mungkin yang Lalu :')



Kita berbicara tentang masa depan seolah-olah kita mengetahuinya dengan benar. Tentang berapa kita akan punya anak, tentang seperti apa konsep pernikahan kita, tentang kita akan bulan madu di mana. Ya, menyenangkan sekali. Lalu kita akan tertawa sepanjang malam.


Kita bercanda tentang berbagai hal seolah kita hanya hidup sendirian. Tentang film apa yang kamu suka, tentang buku apa yang aku suka, dan tentang seperti apa muka kita nanti ketika tua. Ya, tidak membosankan sama sekali. Lalu tangan kita akan saling menggenggam sepanjang malam.

Kita bercerita tentang dongeng cinderella dan kita adalah pemeran utamanya seolah dongeng cinderella itu adalah nyata. Tentang bagaimana cantiknya si puteri (bagiku kamu lebih cantik), dan bagaimana cintanya pangeran (cintaku lebih dari yang bisa diceritakan).

Tentang keduanya hidup bahagia lebih lama dari selamanya. Hahaha, kita gila. Tapi juga sedang jatuh cinta. Lalu kita saling berpandangan, tanpa mengucap apa-apa. Hanya senyuman. Kita sama-sama tahu bahwa itu artinya cinta.

Kita benar-benar merencanakan segala sesuatu sampai sebegitu detailnya. Tapi kita tidak pernah merencanakan bagaimana jika ternyata kita tidak bersama nantinya. Itu kesalahan pertama. Ah, juga yang terbesar. Sekarang apa yang harus kulakukan setelah kamu tidak ada?

Mengelus dadaku ketika aku rindu, agar tidak perih mataku lalu menangisimu? Sudah. Berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaan dan berkumpul bersama teman-teman? Itu juga sudah. Membaca buku, menonton film atau live music? Itu sudah.

Tapi kalau sudah waktunya pulang, dan aku sendirian, rinduku benar-benar tidak tertahankan. Kadang aku merasa bahwa sesaknya sudah dalam tahap keterlaluan, tapi tidak ada yang bisa kulakukan.


Hanya menangisimu, hanya memegangi dadaku dan bertanya kenapa kehilangan bisa seperih itu. Dan aku melakukannya sampai lelah, sampai mataku merah, dan tertidur dengan sendirinya.

Kamu, ... Aku rindu. 

Sangat.