Kita berbicara tentang masa depan seolah-olah kita
mengetahuinya dengan benar. Tentang berapa kita akan punya anak, tentang
seperti apa konsep pernikahan kita, tentang kita akan bulan madu di mana. Ya,
menyenangkan sekali. Lalu kita akan tertawa sepanjang malam.
Kita bercanda tentang berbagai hal seolah kita hanya hidup sendirian. Tentang
film apa yang kamu suka, tentang buku apa yang aku suka, dan tentang seperti
apa muka kita nanti ketika tua. Ya, tidak membosankan sama sekali. Lalu tangan
kita akan saling menggenggam sepanjang malam.
Kita bercerita tentang dongeng
cinderella dan kita adalah pemeran utamanya seolah
dongeng cinderella itu adalah nyata. Tentang bagaimana cantiknya si puteri (bagiku kamu lebih cantik), dan
bagaimana cintanya pangeran (cintaku lebih dari yang bisa diceritakan).
Tentang keduanya hidup bahagia lebih
lama dari
selamanya. Hahaha, kita gila. Tapi juga sedang jatuh cinta. Lalu kita saling
berpandangan, tanpa mengucap apa-apa. Hanya senyuman. Kita sama-sama tahu bahwa
itu artinya cinta.
Kita benar-benar merencanakan segala sesuatu sampai sebegitu detailnya.
Tapi
kita tidak pernah merencanakan bagaimana jika ternyata kita tidak bersama
nantinya. Itu kesalahan pertama. Ah, juga yang terbesar. Sekarang apa yang
harus kulakukan setelah kamu tidak
ada?
Mengelus dadaku ketika aku rindu, agar tidak perih mataku
lalu menangisimu? Sudah. Berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaan-pekerjaan
dan berkumpul bersama teman-teman? Itu juga sudah. Membaca buku, menonton film
atau live music? Itu sudah.
Tapi kalau sudah waktunya pulang, dan aku sendirian, rinduku
benar-benar tidak tertahankan. Kadang aku merasa bahwa sesaknya sudah
dalam tahap keterlaluan, tapi tidak ada yang bisa kulakukan.
Hanya
menangisimu, hanya memegangi dadaku
dan bertanya kenapa kehilangan bisa seperih itu. Dan aku melakukannya
sampai
lelah, sampai mataku merah, dan tertidur dengan sendirinya.
Kamu, ... Aku rindu.
Sangat.