Rabu, 12 Desember 2012

Wind




Malam ini, satu dari sekian banyak daun di dunia terjatuh. Daun yang mencoba terus tegar dari segala terpaan angin yang ingin menjatuhkannya, akhirnya layu juga dengan sisa tenaga yang ada.

Rapuh karena termakan angin yang membuatnya ingin melayang. Berharap melayang, namun yang ada justru ditendang.

Beginilah hidup, misteri bagi semua orang yang percaya akan kebesaran Sang Penyayang.

Untuk angin yang menjatuhkan daun. Percayalah angin itu adalah kamu. Angin yang begitu nyata bagiku. Angin yang mampu membuat ku melayang dan terjatuh dalam waktu yang bersamaan, dan mungkin aku adalah tanya bagimu. Kamu nyata sebagai orang yang ku harapkan, dan aku adalah tanya sebagai orang yang tak pernah kamu rindukan.

Aku terasa dininabobokan dengan panggilan kata sayang, semuanya melayang. Yakin benar bahwa kamu adalah orang yang tak akan pernah hilang.

Sampai detik ini, aku pun masih bertanya apa benar nama tengah dari ku adalah pecundang?

Merasa semua orang ingin mentertawakan. Merasa jadi orang yang paling bersalah dari sebuah titik beku yang tak bisa kita cairkan. Merasa waktu tak pernah mampu bersahabat akan sebuah pertahanan hati yang tak pernah ditabahkan.

Ah! Semua pengharapan akan habis pada waktunya bukan? Semua perjalanan akan berhenti pada waktunya. Semua orang akan jatuh pada waktunya. Dan semua orang akan bangkit pada waktunya.

Sebelum ku sudahi. Ada satu fakta yang patut kamu ketahui.

Di keheningan paling senyap ini ada satu hal yang paling suka aku simpan dan atas namamu itu ku alamatkan. Yaitu rindu. Satu patah kata itu sungguh berarti ketika rindu memuncaki tahta bisu.

Semoga titik jatuh ini, bukanlah titik dimana kita tak akan mengenal lagi meskipun hati kita tak pernah tahu akankah kita bersatu kembali..

Sampai Jumpa dalam dimensi rindu yang berbeda. Angin..

Jumat, 23 November 2012

I miss this Moment (w/ you)


Aku merindukan waktu
Ketika tanganmu menggandeng tanganku
Memanduku menuju taman penuh warna

Aku merindukan waktu
Ketika bibirku merekah ceria oleh warna-warni segala rupa
"Semua ini boleh menjadi milikmu, pilih saja yang kamu suka atau bahkan semuanya.. Kamu akan melihat teman-temanmu memandang kagum kepadamu" begitu ujarmu dengan rupa layaknya peri pelindungku, penyemangatku, yang akan selalu menemaniku dan mendampingiku tumbuh

Aku merindukan waktu
Ketika aku bebas tertawa lepas bersama candamu
Merangkulmu
Memujamu

Aku merindukan waktu
Ketika kamu membuatku takut dengan amarahmu
Jika aku berbuat salah atau jika aku tak mau menurut kepadamu

Aku merindukan waktu
Ketika aku mulai bercerita tentang tubuhku yang mulai berubah
Lalu kamu mulai menjelaskan dengan binar gembira
Memberitahuku bahwa aku mulai beranjak remaja

Aku merindukan waktu
Ketika aku mulai bercerita tentang cinta
Kamu lalu tersenyum menggoda
Berkata bahwa aku mulai mengenal apa yang dinamakan "cinta monyet" pertama

Aku merindukan waktu
Ketika kamu mulai melihatku dewasa
Berbagi cerita yang tak lagi tentangku melainkan tentang kamu

Aku merindukan waktu
Ketika kamu mulai memandangku sebagai sahabat erat
Bukan lagi gadis kecil yang kamu manja

Aku merindukan waktu
Ketika kita mulai berjalan berdampingan layaknya teman lama
Tak terlihat lagi batasan usia
Dan aku semakin memujamu
Menjadikan kamu sebagai pedoman langkahku menuju kedewasaan

Aku merindukan waktu
Ketika ibu tersenyum bahagia
Melihatku dan kamu seolah tidak mau terpisahkan
Melihat satu putri hatinya yang berbagi satu jiwa

Namun aku mulai kehilangan waktu
Ketika kamu mulai berubah

Aku kehilangan waktu
Ketika tak terlihat lagi senyum bangga di wajahmu ketika menatapku

Aku kehilangan waktu
Ketika kamu mulai menganggapku sebagai hama pengganggu
Tak lagi penting bagimu

Aku kehilangan waktu
Ketika kamu semakin jauh
Tak lagi bisa aku sentuh
Tak lagi bisa aku rengkuh

Aku kehilangan waktu
Ketika aku kehabisan alasan untuk memujamu
Ketika kamu tak lagi seperti  penjagaku

Aku semakin kehilangan waktu
Ketika aku tak lagi mengenal sosokmu
Ketika hanya ada pertengkarang dan gumam kebencian di setiap waktu

Aku benar-benar kehilangan waktu
Ketika aku kehilangan kamu
Ketika kamu bukan lagi dirimu yang dulu
Ketika hatiku terasa patah oleh perubahanmu

Aku tahu aku telah kehilangan waktu
Ketika kulihat air mata ibu saat memandang aku dan kamu

Aku tahu aku sangat merindukan waktu
Ketika aku sangat merindukan kamu yang dulu
Merindukan penjagaku yang begitu aku puja

Aku tahu sangat ingin kembali ke waktu itu
Karena aku sangat menginginkan kamu
Inginkan kita kembali seperti dulu...


:')

Selasa, 13 November 2012

Rindu, apakah itu kamu?

Malam ini tak ada yang bisa kulakukan, ingin rasanya terlelap berada dalam mimpi-mimpi indah malam ini.. Tapi ntah apa yg membuatku begitu sulit memejamkan mata sejenak.. Aku teringat Hujan hari ini, ya lagi-lagi hujan...


Pagi tadi, sedikit ku dengar percakapan hujan dari balik pintu jendela. Dan kamu tahu apa kata hujan tentang kita?


Sedikit yang terekam dari asa, mereka melihat kita bagaikan seorang masinis tanpa kereta. Masinis yang ingin selalu melaju dengan jalan pikiran yang selalu terbuka.


Dan aku, aku hanya bisa mengamini setiap apa kata hujan bercerita. Itu fakta, dan apadaya itulah kita.
Jalan itu begitu jelas di depan mata, meskipun kadang sedikit kerikil mampu mengganggu jalannya gerbong kereta. Itu kita, kita adalah gerbong kereta yang saling terikat dan kurang begitu paham makna akan cinta.


Ibarat kereta, kita adalah kereta yang tak bermesin tapi ingin selalu cepat sampai ke tujuan. Tujuan akhir dari segalanya yang orang-orang dambakan. Kita terlupa, masih ada jutaan rindu yang harus dibebankan. Masih ada amin di setiap perjalanan yang akan kita tuju berdua.


Intinya, hujan tadi pagi mengisyaratkan akan rindu bertemunya kedua mata. Mengajarkan akan suatu kesalahan yang ditanggapi dengan kesalahan berikutnya karena arogansi, emosi, dan sulut provokasi sering membuat yang awalnya benar menjadi kalimat semata yang terus pudar.


Hujan saja begitu hafa caral bagaimana mereka menjatuhkan diri meski ribuan orang kadang mencaci. Mereka tak peduli berdansa meski aluran petir yang terkadang meledak membahana.
Memang begitulah seharusnya kita.


Oh iya, sebelum hujan tadi tiba, mendung juga telah bercerita tentang gelap yang tak selalu diakhiri dengan air mata.


Begitu juga kita, bahwa rindu tak harus selalu diawali dengan sebuah kata derita.

Senin, 12 November 2012

Stay? Why?




Kalau ada yang bilang menggapai sesuatu itu sulit, pantas lah dia untuk tak pernah merasakan bagaimana rasanya mempertahankan itu lebih sulit daripada mendapatkan


Terkadang, orang butuh sejuta alasan untuk bertahan. Tapi tak sedikit pula yang cukup berdiri tegar meski hanya mendengar satu ucapan. Setiap cucu adam yang bernyawa pasti tahu bahwa perputaran itu selalu ada, tapi tetap saja selalu tak mudah untuk selalu siap bila mendengar kata perpisahan.


Kepala ini sering tertunduk dengan tatapan tajam tanpa pikiran. Meskipun kadang, kamu selalu mampir di sana meski hanya segelintir. Yang dirasa? Getir.


Kadang aku tak mengerti, apakah aku yang tidak cukup berusaha meraihnya, atau jalan menuju ke sana yang terlalu rumit? Ya, aku sedang berbicara tentang hatimu. Jika kamu memang punya perasaan yang sama denganku, mengapa bisa serumit ini?


Di dalam pikiran rumit itu pula aku menemukan mu di waktu lalu. Di waktu saat senyum kita terlempar tanpa malu. Tanpa pandang saling tahu bahwa kita saling mengagumi mengaggumi sejak dulu.


Kenapa ku tahu bahwa aku mengaggumi mu? Karena aku tahu, tiap kali aku masuk kamar dan mematikan lampu. Ada siluet wajahmu yang terbentuk dan merefleksi dalam kalbu.


Aku sulit bernafas. Itu dulu, dan selalu begitu.


Sampai pada akhirnya, suatu waktu kian terus berlalu. Senyum itu kadang berubah wujud menjadi pilu. Dengan degup jantung yang terasa membuat tulang rusuk ini begitu ngilu.


Perasaan yang dulu membuatku tersipu malu, seakan pergi terbang tersapu waktu.

Ah, aku melangkah terlalu jauh. Sebab, yang aku tahu kamu memang tak begitu mengerti akan intonasi nada jantung yang begitu menggebu-gebu. Dengan perasan kalut dan nafas yang terus memburu ruang sesak paru-paru.


Kamu, adalah alasan aku untuk bertahan. Dengan perasaan yang tak ingin pergi meski hanya perlahan. Percayalah, yakini hatiku bahwa menggapai mu itu sama sulitnya dengan mempertahankan mu. Meski hanya dengan satu ucapan atau sejuta alasan. Aku mau, kita terjaga dalam satu harapan.


Kita-

Kamis, 08 November 2012

Tatapan Mata Paling Kosong



Hai tatapan mata paling kosong yang terkasihi.


Tahukah kamu?


Di antara kedua mata itu aku luluh berserakan tatkala menahan senyum yang datang tiap kali rindu memaksa untuk menatapnya.


Entah cuma tatapan matamu saja yang kosong atau perhatianmu juga mengikutinya. Sebab yang ku tahu, tiap kali aku bertanya pada bagian ruangan itu, selalu ada gema kata yang tak terbalas. Selalu ada percakapan yang tak ingin kamu bahas.


Aku menunggu, menunggu bibir tipismu bergerak mengucap sebuah kata rindu. Seperti yang selama ini aku lakukan ketika remah hati berserakan karena terlalu banyak menunggu.


Perlahan tapi pasti, seluruh dirimu mulai merajai tubuh ini. Dengan gengsi yang patah terkalahkan akan rasa yang ingin dikasihi.


Ya, aku suka cara matamu menatap harapan dan menyandingkannya dengan keyakinan. Karena yakin adalah tujuanku.


Aku tak mau terlalu dini untuk kehilangan kamu.
Sebab ada damba yang tak ingin lepas, ada rindu yang tak ingin kandas, dan ada perhatian yang ingin dibalas.


Ada rentetan huruf yang belum ku-eja. Tersimpan dalam buku waktu yang terus ku jaga. Kutelusuri satu per satu halamannya hingga halaman terakhir bahwa kita adalah jawabannya.


Semalam, adalah satu dari sekian banyak hari yang terus terang sangat menarik dan menghiburku di dunia nyata. Kamu pujaan, dengan bangga telah menjatuhkan lagi hati ke seseorang. Dan akulah orang tersebut.


Kamu tahu?


Saat kamu berada jauh di garis waktu, sekejap jarum jam tak ubahnya seperti belati. Setiap detiknya menghunjam jantungku berkali kali.

Kutemukan Kamu



Pagi ini, aku bertegur sapa dengan waktu. Menatap tajam ke arahnya yang begitu cepat berlalu. Sedikit terhirup aroma debu yang selalu mengganggu.


Tapi tidak lupa ku ucapkan terimakasih untuk hangat sapa pagi, renyah senyuman dan cerah harapan yang terpendar sejak aku duduk terdiam seperti terdampar.


Dalam sesak ruang kamar, yang selalu jadi saksi jutaan cerita ketika mata ini terus terbuka. Dalam ribuan angka yg patah satu-satu dari sebuah kalender tua. Serta dalam ucapan tanpa suara, dan pukulan ribuan tanpa doa.


Aku pernah berjanji, tiap pukulan itu harus jadi tempat paling nyaman untuk ku jadikan tumpuan. Karena aku percaya, bahwa bahagia itu penuh teorema. Harus ada sebuah perjalanan di setiap sinopsis cerita. Dan harus ada rangkaian derita untuk melengkapkan sebuah kata cinta.


Sampai akhirnya ku temukan kamu dengan hati yang tak berpenghuni. Mencoba untuk menghampiri meski kamu penuh sunyi.


Ku titipkan sebuah doa. Satu doa tulus yang ku harap tak akan sia-sia, bermakna lebih dari sekadar harapan dan impian yg terjaga. Sebab ada hangat yang mengemuka, saat kita terlupa ketika saling berbagi cerita.


Ya, aku tahu masih banyak hari lagi menanti. Besok atau lusa nanti, kita bertemu menguji kepatuhan janji.


Karena perjalanan baru saja bermula. Di setiap hulu jejakmu, akan kucari rindu. Dan hatimu lah muara untuk kita bertemu.


Tapi… jika aku harus terjatuh lagi, ingatkan aku akan pukulan tanpa doa tadi yang meski harus terus ku cari.

Rabu, 07 November 2012

Tak Mungkin Berlanjut (lagi)


Bersama mendung yang bergelajut ku dahului hujan dengan titik airmata yang tak lagi mampu kebendung lajunya


Bersama mendung yang menghitam kubuka kunci hati yang beberapa  waktu ini mengurung rinduku demi egoku

Bersama langit yang kian memburam ku akui aku rindu kamu

Aku kehilangan kamu

Aku ingin mendengar lagi suara canda dan tawamu

Juga luapan amarahmu

Entah disana kamu bisa merasakan gemuruh rasa yang berkecamuk di hati ini atau tidak

Yakinku kamu pasti tahu
Yakinku kamu pasti mengerti

Beratnya rasa yang tertahan

Bukan karena gengsi ataupun ego diri

Tetapi demi janji yang terucap untuk saling mengakhiri sesuatu yang tak lagi bisa dipaksakan

Agar tak lagi ada yang tersakiti

Aku ingin membenci kamu, memaki kamu, menghapus kenangan tentangmu

Aku ingin mengingat semua kata-kata kasarmu yang kau ucap untuk membuatku benci

Tapi yang terjadi diri ini hanya diam dan mengiba pada Tuhan tuk mengubah takdir

andai saja itu mungkin

Satu sadar yang kumengerti

Kuterima ini dengan pedih

Takdirku hanya sampai disini
Takdir kita telah terhenti di titik ini

Kisah ini pun mungkin tak akan pernah berlanjut lagi...


Selasa, 30 Oktober 2012

Aku Bukannya Menunggu


Aku bukannya menunggu, aku hanya menghitung detik-detik yang terlewatkan tanpamu
Aku bukannya menunggu, aku hanya menyiapkan diri sampai benar-benar siap menyambutmu
Aku bukannya menunggu, aku hanya berkawan waktu dengan terlalu akrab
Aku bukannya menunggu, tapi lengan detik ini menyanderaku. Hingga kau datang bebaskanku dan kita bunuh waktu satu persatu
Aku bukannya menunggu, aku hanya tau dalam setiap detiknya selangkah kakimu menujuku
Aku bukannya menunggu, aku hanya sedang merajut doa bersama waktu
Aku bukannya menunggu, aku hanya senang mengkoleksi rasa rindu dan pada saat yang tepat akan kuhadiahkan padamu..






Semoga Tidak Kamu Lagi


Ada rasa sedih saat melihatmu bahagia. Bukan karena aku tidak ingin kamu bahagia, melainkan karena bukan aku yang membahagiakanmu. 

Itu menyakitkan, seperti pukulan yang sebenarnya ingin buatku tersadar. Mungkin ini waktu untuk aku terpuruk, supaya aku dapat melihat Tuhan memakai kenangan ini untuk buatku dipenuhi kesiapan, sehingga doa dapat melahirkan semangat dan kemudian buatku bangkit.

Namun ketahuilah sebelum aku sudah tak lagi mencintaimu, ini darahku mengalir membawa bayang-bayangmu mengelilingi tubuhku dan jantungku berdenting demi kau menari-nari di pikiranku. 

Ada satu hal yang sampai hari ini masih membuat aku bangga menjadi aku, itu karena aku mampu terima kamu apa adanya. Aku meminta ampun kepada Tuhan, sebab aku pernah berharap kalau suatu saat, ketika angin menghempasku hilang dari daya ingatmu, aku ingin tak pernah lagi menginjak bumi. 

Sebab hidup  jadi terasa bagaikan dinding yang dingin. Aku harus menjadi paku, sebab kamu bagai lukisan dan cinta itu palunya. Memukul aku, memukul aku dan memukul aku sampai aku benar-benar menancap kuat.

Pada akhirnya, semoga, tidak kamu lagi yang aku lihat sebagai satu-satunya cahaya di dalam pejamku sebelum pulas. Amin.

Rabu, 24 Oktober 2012

Innallaha Ma'ashobirin

Sabar bukan berarti menyerah tanpa usaha..

Sabar bukan pula perjuangan tanpa hasil…

Tapi sabar adalah taman kesejukan diantara ikhtiar dan tawakal.

Sabar adalah perwujudan keyakinan kuat akan janji Allah.

Dengan sabar,,percayalah dan yakinlah bahwa Allah akan segera menyambut niat dan keinginan tulus seorang hambaNya…

Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS.Ali Imran [3] : 200).

Rabu, 17 Oktober 2012

Cinta Tak Mungkin Berhenti

Kenangan itu kembali terkuak,saat aku menemukan tulisan lama mu di dalam binder kecil ku..
Sebenarnya tak ingin aku membukanya,namun rasa rinduku lebih kuat dari rasa sakit ini..

Kubaca lembar demi lembar tulisan mu, membuka kenangan yang dulu sempat kau tulis untuk kita..
Kenangan indah dengan masa depan yang lebih indah..

Senyum kecil muncul dari bibir kecil ini, namun rasa sakit di dada tak mampu aku lawan..
Ya,ternyata ini menyakitkan, tapi ntah mengapa aku menyukainya.. 

Aku menyukai kenangan indah kita yang ditulis di lembar-lembar kertas yang sudah tak sebersih dulu lagi..
Aku suka tulisan-tulisan kecil kita dengan cita-cita yang besar  untuk masa depan..

Ah tapi sudahlah...

Aku tahu, hati ini memang sakit, penuh dengan luka,cemburu namun hati ini juga pernah mencinta dengan tulus.
Karna ketulusan inilah,aku tahu rasa kasihku tak akan mudah terganti..

Cinta tak mungkin berhenti..
Biar waktu yang memberi jawaban,karna waktu adalah penguasa keadaan.. 

Dan sekarang,memang aku memang harus pergi..
Untuk menyembuhkan luka ini..




"cinta tak mungkin berhenti secepat saat aku jatuh hati
jatuhkan hatiku kepadamu sehingga hidupku pun berarti
cinta tak mudah berganti, tak mudah berganti jadi benci
walau kini aku harus pergi tuk sembuhkan hati"



#30HariLagukuBercerita Tangga - Cinta Tak Mungkin Berhenti

Selasa, 09 Oktober 2012

Bukan di sini, Bukan Pada Rasa Ini

Dia sudah pergi
Apa yang dicarinya bukan disini
Tak ada disini

Dia telah memilih 
Hatinya telah memilih
Menghinggapkan rasa pada pilihannya
Bukan pada rasa ini

Telah tiba waktuku untuk berhenti
Menjaga apa yang memang tak bisa kumiliki
Melepas apa yang seharusnya bebas
dan kembali meniti rasa

Mencari asa pada jalanku sendiri
Untuk dapat menemukan apa yang ingin dimiliki 
Olehku

Hari ini, aku kembali belajar
Memaafkan diri
Berjabat tangan pada kenangan yang harus ditinggalkan
Kembali menguatkan hati

untuk mengucap selamat pada masa depan 
yang pasti datang walau entah kapan...

Senin, 08 Oktober 2012

Bukan Jarak Pembunuhnya

Aku ingat bagaimana caramu menyapa..
Aku ingat bagaimana caramu tertawa..
Aku ingat bagaimana caramu menunjukkan dunia..
Meski kita sudah tak berjumpa sekian purnama..

Pelukanmu sehangat tatapanmu..
Suaramu semerdu nyanyian surga..
Kedamaian menyapa setiap kali kamu menawarkan telinga..
Itulah kenapa setiap saat bersamamu aku ingin berlama-lama..

Bersamamu aku merasa bisa menghadapi dunia..
Kamu selalu di sana dan menjadi saksinya..
Dari saat mimpiku baru sekedar wacana..
Sampai saat mimpiku menjadi nyata..

Aku ingat saat pertama kali mata kita berteguran..
Senyum ramahmu menyuguhkan kenyamanan..
Dan senyum itu menciptakan sebuah keyakinan..
Kamu dan aku memang akan berjalan beriringan..

Dari kamu aku belajar tentang keberanian..
Bersamamu aku berani membuat keputusan..
Karena kamu aku bisa mengalahkan keangkuhan..
Dan demi kamu juga aku berani melakukan pengorbanan..

Aku ingat hal-hal bodoh yang pernah kamu lakukan dulu..
Mengendap-endap masuk ke teras rumah menaruh sebuket mawar merah..
Sampe aku berlari mengejar kamu..
Tapi itu semua tertebus oleh sebuah tangisan haru..

Aku ingat saat pertama aku memelukmu..
Sengaja lama-lama aku ciumi pundakmu..
Seakan-akan aku bisa menghirup aroma bebanmu di situ..
Saat itu lah aku merasa menjadi wanita berguna bagimu..

Tapi aku sadar, hidup ini mungkin terlalu panjang untuk cerita cinta kita..
Aku sadar, masa lalu biarlah menjadi nostalgia..
Aku hargai keputusanmu untuk menutup bab terakhir cerita kita..
Aku yakin, ini memang saatnya kamu membiarkanku sendiri menghadapi dunia..
Karena hanya kamu yang bisa benar-benar mengenaliku apa adanya..

Awalnya, aku mengira jarak lah yang patut disalahkan..
Tapi sekarang aku mengerti, kita lah yang layak dipertanyakan..
Mungkinkah cinta ini hanya sekedar selingan?
Atau cinta ini layak dibawa hingga akhir kehidupan?

Aku percaya jarak tak pernah salah..
Aku percaya jarak tak mampu membuat cinta musnah..
Aku percaya jarak tak pernah jahat..
Aku percaya jarak justru mendidik kita jadi pasangan yang hebat..

Tapi tampaknya kini kau menyerah..
Dan aku pun tak bisa melawan atau menebar amarah..
Karena kisah ini berawal dengan pertemuan yang indah..
Aku tak ingin semuanya diakhiri dengan rasa gelisah..

Aku ikhlas melepaskanmu..
Akan ku ceritakan kisah kita kepada anak-cucuku..
Agar mereka tau, aku pernah menghidupi kisah cinta sehebat itu..
Agar mereka sadar, cinta itu tak hanya sekedar "aku mencintaimu"..

Selamat tinggal cinta..
Terima kasih untuk pelajarannya..
Aku tak pernah berfikir ini semua sia-sia..
Justru kisah ini membuatku semakin dewasa..
Untuk menyikapi ceritaku di bab berikutnya..
 
 
 
Sampai jumpa di hari yang lebih mulia..
Mungkin saat ini kita adalah dua tokoh utama di dalam film yang berbeda..
 
 
 
Thanks for the memories "F"

Minggu, 07 Oktober 2012

Coretan Keadaan

Apa jadinya jika orang yang selalu mengangkatmu ketika kamu terjatuh selama ini, kini justru menjadi penyebab kamu "nyungsruk" begitu dalam? Kemana lagi kamu akan berpegangan? Kemana lagi kamu akan mencari aman? Kemana lagi kamu akan mencari kekuatan? Kemana lagi kamu akan menumpahkan kesedihan? Kemana lagi kamu akan mengembangkan harapan?

Ya, itulah yang kini aku alami. Layaknya sedang menoreh coretan-coretan atas keadaan. Dia yang menguatkanku selama ini justru menjadikanku terjatuh dan kian terpuruk. Dia yang menghapuskan airmataku selama ini justru menguras habis sisa airmataku hingga perih. Dia yang melukiskan senyuman di bibirku justru menyapukan mendung tak berkesudahan di wajahku. Dia yang menjadi tempatku berpegang dan mencari perlindungan kini justru menjerumuskanku ke dalam jurang kepedihan. Dia yang melambungkan harapan kini justru memecahkan asa hingga hilang menjadi kepingan.

Ternyata waktu bukan jaminan untuk jadi tolak ukur seberapa dalam perasaan seseorang yang terbentuk karenanya. Menghabisi waktu bertahun-tahun bersama, saling mengisi dan menjaga sudah pasti meninggalkan rasa yang begitu dalam, membekas dan bahkan menyiksa saat dihadapkan dengan perpisahan. Namun bukan berarti waktu yang sebentar dalam suatu suatu hubungan tidak bisa memberikan efek yang sama. Buktinya, hubungan singkat bahkan mungkin bisa dikatakan super singkat meninggalkan kesan pada perasaan dan luka yang begitu dalam di kala aku harus berhadapan dengan perpisahan.

Dia hadir dalam keterpurukanku. Membantuku berdiri dan membasuh luka yang menyebabkan perih. Menyembuhkan luka yang menganga dengan penawar dari hatinya. Menghadirkan tawa ceria dalam sedihku.
Siapa sangka semua berubah dalam sekejap mata. Menghadirkan tanda tanya dan rasa tak percaya. Kemana dia dan apa alasan dibaliknya. Hanya tanya tanpa curiga.

Hingga waktu perlahan menyibak tabirnya, tanda demi tanda merangkai cerita. Bubarkan segala ucap yang pernah terlontarkan. Membalikkan keadaan dengan gelimang tanya baru.

Benarkah dia? Kenalkah aku padanya? Masihkah dia sebaik apa yang tersimpan dalam ingatan? Atau hanya diriku saja yang sebenernya menutup mata akan siapa dia?

Karena hatiku yang terlanjur cinta...

Jumat, 05 Oktober 2012

Hujan, Kita dan Kenangan

Musim hujan sudah tiba, bisa dipastikan setiap harinya dalam beberapa bulan ke depan langit akan senantiasa dirundung mendung kemudian basah dimana-mana. Sebagian besar orang mungkin akan mulai sebal dengan keadaan ini karena sudah pasti di kota tempatku tinggal ini banjir dan macet kembali tersuguhi selama musim penghujan. Oh tunggu dulu, kalau soal macet tak perlu menunggu musim penghujan pun kota ku ini sudah terkenal kegilaannya.

Aku suka hujan. Entah tepatnya sejak kapan aku tak tahu yang pasti aku tahu aku selalu bersenang-senang dan bercengkerama dengan hujan semenjak aku duduk di bangku sekolah dasar. Hujan sudah seperti teman bagiku. Keindahannya yang tersajikan dikala rintiknya berjatuhan bak sebuah lukisan alam yang Maha Agung. Memberikan suasana melankolik yang mampu menghayutkan siapapun. Belum lagi ditambah aroma rerumputan, daun-daun dan tanah basah setalahnya begitu rintik itu usai. Sungguh menenangkan untuk jiwa yang mendamba kedamaian.

Aku semakin mencintai hujan ketika hadirnya menemani perjalananku dan kamu yang pertama. Perjalanan yang menjadikan suatu tempat yang kita tuju sebagai kenangan yg indah antara aku dan kamu. 
2 tahun yang lalu. Rintiknya tidak deras tetapi hadirnya cukup membuat senti demi senti jalur yang kita lalui tampak basah dan segar. Hadirkan suasana yang berbeda dan menumbuhkan rasa. Membuat aku dan kamu semakin dekat dan kian akrab dalam canda tawa.

Hujan pun terus menemani kisahku dan kamu dihari-hari sesudah itu. Disaat kita bersama dan tertawa. Disaat kita bertengkar dan saling menghindar. Disaat kita menyakiti dan kemudian menangisi. Hadirnya senantiasa setia menemani dan memberi warna lain dalam setiap cerita kita yang terjadi, cerita tentang aku dan kamu. Bahkan entah ini kebetulan atau bukan, hujan sudah menjadi semacam latar untuk kisah kita. Kisah tentang aku dan kamu. Seorang temanku yang juga kamu kenal pernah melontarkan komentarnya tentang hujan, aku dan kamu "heran, kenapa selalu ada hujan turun disetiap cerita tentang kalian berdua? Seperti sudah diatur. Kebetulan yang nggak biasa".
 
Pada bulan ini, dulu aku juga merasa sendiri,kehilangan,kamu. Entahlah. Tapi hujan itu masih sama. Masih selalu sama. Hadirnya masih mampu menggali lagi dan lagi kenangan akanmu. Dari manisnya cerita cinta hingga pahitnya luka yang tertempa. Aku sadar kini semua tak lagi sama tetapi kenangan dan rasa itu masih ada.

Tak ada lagi cerita lama yang tercipta. Kisah pun kini berganti nama. Lembaran baru terisi dengan cerita-cerita yang baru, nama baru, rasa dan cinta yang baru. Aku menemukannya setelah kamu pun mungkin tlah melupakanku. Namun semua berbeda adanya. Tak pernah terasa sama. Tak pernah bisa tergantikan. Setidaknya untukku, entah bagaimana dengan kamu. Semua itu tidak hilang, hanya bersemayam dalam diam disudut terpencil bernama kenangan yang sewaktu-waktu menggeliat disaat hujan datang.

Aku akan selalu berterimakasih pada hujan dan pencipta-Nya karena ia telah setia dalam setiap kisah yang ku punya. Tentang kamu, tentang aku, tentang kita dan tentang dia yang belum bernama, yang mungkin akan hadir di masa depan..

Ditulis saat hujan datang diawal Oktober,ditemani secangkir susu coklat hangat dan rasa kehilangan..

Sabtu, 29 September 2012

Ingat gak?

Kamu inget gak pas aku kenal kamu, dengan cara yang unik?
kamu inget gak pas aku nembak kamu dan nyatain "aku cinta kamu"? 
kamu inget gak pas aku nemuin kamu, bela-belain sisihin uang jajan buat nyamperin kamu yang jauh di sana?
Kamu inget gak pas kamu mau dapetin aku, kamu gak lupa buat selalu isi pulsa biar gak telat kasih perhatian ke aku?
Kamu inget gak pas kamu mau pergi ninggalin aku dan di situ kita mau ngeluarin air mata bareng-bareng karena kita bakal pisah lagi dan enggak tau kapan bakal ketemu lagi?
Kamu inget gak pas aku ajak kamu nonton dan itu pertama kalinya aku jalan bareng sama kamu?
Kamu inget gak kalo aku selalu ada di saat kamu butuh, beda banget sama kamu?
Kamu inget gak kalau aku pernah nyamperin kamu tanpa sepengetahuan kamu dan tiba-tiba ada di depan rumah kamu?
Kamu inget gak pas kita berantem hebat saat jauhan, ketika aku samperin kamu kita ketawa-ketawa bareng lagi.
Dan kamu inget gak ada aku di sini yang masih mempertahankan kamu, dengan susah payah. semampuku.


Aku bukan kangen kamu, aku cuma inget aja kita yang dulu kok jauh lebih baik keadaanya dibanding kita yang sekarang.
Aku bukan ngajak kamu kangen kita yang dulu, cuma mau bernostalgia aja sama kita yang dulu sambil benerin kesalahan yang sekarang.
Kita masih menyimpan kenangan, jangan buat kita membuangnya hanya karena masalah sepele, egois dalam menahan rindu.
Semua kenangan manis atau pahit itu pernah kita lewati, apa kita akan mengubur dan membuangnya jauh-jauh? aku gak mau.

Kamis, 20 September 2012

Ntah...

Begitu banyak cerita kutulis disini,aku,keluargaku,sahabatku dan juga tentangmu...

Ntah bisa habis berapa sobekan jika aku menulisnya di dalam kertas,lalu mengirimnya lewat pos untuk kau yang berada di sana..
Aku tak melakukannya,karna hanya dengan doa untukmu itupun sudah cukup..

Jarak,ah sudahlah! aku tak ingin menyalahkan jarak sebagai penyebabnya..
Bukankah seharusnya kita harus kembali lagi ke diri masing-masing? ya..maksudku kembali lagi terhadap KITA bukan AKU saja atau KAMU saja..

Menahan rindu memang tak mudah bagiku,mungkin tak mudah juga bagimu..
Tapi bukankah rindu itu bagian dari KITA?
Tanpa rindu tak akan ada sebuah pertemuan..
Karna itu akupun tak bisa menyalahkan rindu yang terkadang menyiksa..

Tapi jika KITA yang sekarang bukanlah KITA yang dulu lagi mungkin aku bisa menyalahkan HATI..

Hati ku karna terlalu tak bisa menahan kesakitan masa lalu.. atau
Hati mu yang ingin bebas dan tak bisa kujaga seperti dulu lagi?


Masih bisakah aku merindumu yang dulu?
Akh! maksudku KITA yang dulu...




Jakarta,20 September 2012 at 10:58 PM
Wanita yang kehabisan cara membuktikan cintanya..

Salam,Malam

Temaram
Langit hendak membenam, mengganti mata menjadi malam
Kemudian padam



Tenggelam
Rindu bagai tempat yang dalam, aku menyelam
Jiwa memendam

Kelam


Hatinya tidak tersiram, angin pulang membawa lebam
Suram
Geram
Kejam



Menghantam
Memutar yang terekam
Siksaan sepi di tiap jam



Salam.

Ditulis saat hati sedang tak tentram :')

Selasa, 11 September 2012

Lihatlah Aku, Sebagai Diriku!

” ..Aku takkan pernah berhenti
Akan terus memahami, masih terus berfikir
Bila harus memaksa atau berdarah untukmu
Apapun itu asal kau mencoba menerimaku..” 



“Jadi ini maksudnya apa? Kita jadian?” tanyaku dalam kebingungan pada pagi itu. 

“Iya, hari ini, ditanggal ini, dalam keserdahanaan yang ada” ucapnya lembut dengan senyum lembut malu-malu namun penuh keyakinan. 

“Kamu nggak lagi terbawa suasana kan? “ tanyaku masih dalam keraguan yang berkecamuk. Bergumul dengan persaan senang, bahagia, namun juga takut dan ragu disaat bersamaan. 

“Enggak, aku nggak terbawa suasana, aku dalam keadaan sadar” jawabnya lagi. Kali ini dengan keyakinan yang mantap sambil menarik tubuhku, merengkuhnya erat dan mendekapnya dalam sebuah pelukan yang begitu hangat.

Pagi itu terasa begitu indah dan sempurna. Begitu membahagiakan. Hingga tiba saatnya aku mendengar sesuatu yang begitu berbeda. Seolah pagi itu tak pernah ada. Apa yang aku takutkan kini benar terjadi. Bahwa aku bukanlah kesungguhan yang dituju. Bahwa yang terjadi pagi itu adalah semu. Bahwa semua yang diinginkanmu dariku hanyalah bentuk perwujudan apa yang kamu rindu. Kerinduan akan hal-hal kecil yang biasa kamu lakukan dengan wanitamu yang dulu. Kamu melihatku tetapi bukan sebagai diriku. 

Aku masih disini. Berdiri diam dalam keterombang-ambingan yang tiba-tiba terjadi. Merubah semuanya dalam sekejap. Aku masih disini. Menatap dalam diam dengan butiran air mata yang mulai menjatuh perlahan. Kebisuan yang dibiarkan begitu saja demi mempertahankan sesuatu yang tak ingin berakhir tanpa kepastian. Mengalirkan pertanyaan yang tak mampu ku ucapkan lebih jauh dan membiarkannya tersapu angin dingin yang membuat tubuh dan hati ini terasa beku. 

Aku tahu aku hanyalah bayang semu yang kamu ciptakan sebagai pengganti. Sudah seharusnya kusadari itu dari awal, namun hatiku membuatku tak mempedulikannya. Aku hanya ingin ada disisimu. Merengkuhmu. Membawamu pergi dari masa lalu dan memulainya kembali bersamaku. Aku hanya ingin kamu tahu aku ada untukmu, menjadi masa depanmu. Aku ingin kamu menerimaku sebagai diriku. 

Aku bertahan disini. Berusaha memahami apa yang kamu rasakan, luka hati yang belum dapat kusembuhkan. Aku coba membuatmu mengerti namun selalu saja kuterima satu jawab yang sama “aku lagi nggak bisa mikir, lagi nggak fokus dan nggak mau ribet” maka aku pun akan diam dan memberimu ruang. Mendekap kembali rindu ini untuk diriku sendiri. Kamu pun seolah perlahan pergi, semakin mejauh meninggalkanku dalam diam tanpa satupun ucapan lagi. Tak inginku memaksakan apa yang belum bisa kamu berikan. Namun akupun tak ingin berhenti berjuang. Berusaha menyentuh hatimu secara perlahan bermodalkan kekuatan, kesabaran dan rasa sayang yang aku punya untukmu. Berharap suatu saat kamu benar-benar mampu menganggapku ada. 


“..Dan kamu hanya perlu terima
Dan tak harus memahami, dan tak harus berfikir
Hanya perlu mengerti aku bernafas untukmu
Jadi tetaplah di sini dan mulai menerimaku..” 

Hari terus berganti, waktu pun kian berlalu. Hatiku masih menunggu namun tak jua mampu kupecahkan kebisuan itu. Aku belum berhenti. Aku masih memperjuangkan ini meski sendiri. Berusaha membuatmu mengerti dan kembali. Menerima siapa aku dan menyatukan rindu ini untuk kita. Menjalani kehidupan yang terus meniti ke depan tanpa perlu lagi menoleh apa yang tertinggal di masa lalu. Aku ingin kamu mengerti bahwa apa yang kita jalani adalah mencari sebuah arti untuk hubungan ini. Aku tak berharap kamu benar-benar memahami, hanya inginkan kamu sedikit saja mengerti bahwa aku ada disini. Bertahan untukmu. Mencari arti atas keberadaanku, keberadaanmu dan atas akhir seperti apa yang akan terjadi. Aku menunggu kamu melihatku bersama waktu. Jika pada akhirnya memang bukan milikku untuk bisa terus bersamamu, maka aku berharap biar waktu ini yang akan mengakhiri dan menyembuhkan. 



“..Cobalah mengerti semua ini mencari arti
Selamanya takkan berhenti
Inginkan rasakan rindu ini menjadi satu
Biar waktu yang memisahkan..” 

#30HariLagukuBercerita
Lirik by Ariel, Uki, Lukman, Reza, David feat. Momo Geisha – Cobalah Mengerti) 

Sabtu, 08 September 2012

Kamu..Kecil

Teruntukmu,

Atas segala masalah yang datang, seberapa berat hal-hal itu, sesungguhnya itu akan menegaskan banyak hal padamu, terutama tentang sebuah makna di balik aku tetap di sini.  Oleh karenanya, jangan kamu merasa hina karena aku mencintaimu, atau aku bisa menjadi sedih dan menangisinya! Memang ada banyak yang lebih hebat daripada kamu, tapi lebih hebat bila aku tetap mencintaimu.

Percayalah! Biarkan aku menangis untuk tersenyum! Inipun karena cinta. Aku yakin, aku tidak menjadi bodoh karena itu. Tetaplah di sini, dan jangan menghukum dirimu karena kedukaanku! Aku tidak ingin bolos dari derita. Aku ingin benar-benar melewatinya dengan nilai yang memuaskan. Maka tidak akan kubiarkan siapapun mencuri kesedihanku dan menggantinya dengan kesia-siaan! Aku ingin memenangkanmu karena pernah meneteskan airmata. 

Seperti itu kesanggupanku. Demikian pula, aku tidak akan menyudahi cinta karena ketidakpuasaan sesaat. Aku akan menyimak hidup sampai kita benar-benar tiba di hari senang.

Memang, ada banyak yang bertahta daripada kedudukanmu , pula berharta daripada isi sakumu. Tetapi itu semua adalah yang aku kenal sebagai aneka dari ujian. Melatih jiwaku untuk dapat mengangkat keberuntungan. 

Kekasih, mempertahankanmu adalah caraku membanggakan anugerah Tuhan. Kamu hanya begitu kecil di mata dunia, yang terlalu jelas dilihat Tuhan, walau kusimpan di dalam hati..

Dari Aku,Separuh Hidupmu


Tak ada yang tahu pasti soal perasaan kecuali dengan meyakininya sebagai perasaan. Sebuah cerita dari guratan masa lalu yang tak mau hilang meski usang termakan waktu.

Pagi yang sama, yang membuncahkan damba, yang menguatkan setia untuk orang yang paling sering ku sebut ketika berdoa.

Ada banyak cara menyebut nama mu disini. Bisa dengan lewat air mata yang melukakan senja, bisa juga lewat bibirku yang terbata mengucap sebuah derita.

Kini hanya maaf yang bisa dihadirkan di penghujung sebuah penantian yang tak tau kapan akan merapat ke tepian. Sebab, pagi itu kan tetap sama. Namun dengan harapan yang berbeda.

Habis sudah doa dalam kata, melebur dalam buraian air mata tiap kali menyebut melodi sebuah nama dan merasakanmu dari dekat. Dengan rindu yang melipatgandakan harapan tanpa sekat. Nama mu masih bisa ku lihat terikat bersama lirih yang melekat dalam malam yang pekat.

Bukan aku bosan dengan kata-kata kesepian, melainkan selalu ada sedih yang mengemuka saat ku tahu kamu ditelan lelah yg membelah raga.

Kamu tahu?

Kamu adalah impian yang begitu nyata. Kamu adalah sebuah kenyataan yang tak bisa dihadirkan dalam ruang dialegtika.

Kamu adalah ingin dan lelahku menatap, diamku berucap, terkadang habisku berharap.

Kini, biarkan pagi itu menjadi hakiki, hak dimana hatiku ini tak ingin kau sakiti lagi serta diamku menanti..

Dari aku, potongan kisah separuh hidup mu yang tak mau lagi dirundung pilu.

Selasa, 04 September 2012

Rahasia Kaum Adam yg Egois?

Aneh. Banyak pria yang cinta pada kebebasan, tetapi ia juga rindu pada mulut cerewet yang cemburuan. Kesimpulan yang paradoks : Pria tidak suka dikekang, sekaligus tidak suka apabila diacuhkan.

Meski suka sekali disentuh, pria tetaplah bukan mahluk yang super-peka. Jadi jangan sekali-kali membiarkannya tenggelam oleh ketidaksadarannya. Sentuhlah telinganya dengan kalimat brilliant, Sentuhlah matanya dengan tatapan yang dalam dan sentuhlah tubuhnya supaya tidak ada wanita lain yang berani memegang. Ketidakpercayaan bukanlah tempat untuk memenjarakan.
Egois? Iya. Tetapi egoisitasnya tidak lebih kuat dari air mata kaum hawa. Pria adalah penakut. Takut ketahuan, takut kehilangan. Adalah pujian untuknya, jika kata-katanya mau dipegang.

Hai wanita, adalah suatu kelebihan jika kau hanya sampai di predikat “mudah sakit hati.” Karena pada dasarnya, pria malah mudah sekali mati.
Ia lebih baik disiksa kicauan siang dan malam daripada sekali dihajar kesunyian. Karena sekali dihajar, pria bisa langsung terbaring dibawah tegak batu nisan.

Jadi berapa kali dalam semalam, wanita menjadi gelisah tentang keberadaan kekasihnya?
Ya, ya, ya, gelisah yang ringan tentang sebuah kekhawatiran bahwa dia bebas melakukan hal yang macam-macam.
Tengok pria!
Jika wanita melakukan hal yang sama, pria tidak mau pasrah, tidak hanya gelisah, tetapi juga marah. Ia akan mencarimu sampai ke antah berantah. Di pikirannya bukanlah rasa takut pada pengkhianatan, tetapi sebuah teori yang mengatakan bahwa wanita adalah mahluk lemah yang selalu diincar godaan.

Sekarang tunjuk tangan jika ada yang merasa hatinya retak terpukul perbuatan pria!
Okay, kamu!
Lihatlah, jika kau melakukan perbuatan yang sama terhadapnya.
Apa hati yang mudah retak itu bisa melihat jari tangan pria mengacung, mengaku kalah?
Tidak? Ya, kau pasti hanya melihatnya tetap girang.
Sekarang jangan bilang siapa-siapa!
Di dalam sakunya tersembunyi telapak tangan yang meremas kepingan hatinya yang terus menerus merasa bersalah. Kecerobohanmu dianggap sebagai kelalaiannya. Jadi tidak heran, jika seuntai tawa hanyalah sebuah benteng gengsi yang tanpa celah. Sampai-sampai kesedihannya menjadi tak kasat mata.

Memang aneh jika pria suka pada kebebasan, sekaligus rindu pada mulut cerewet yang cemburuan.
Jadi, demi menghindari suara hantu yang memanggang kepalamu yang melayang, aku menerawang :
“Wanita, kau hanya perlu mengenalnya dalam-dalam.”

Ini bukanlah ajakan untuk anda berpikir tentang siapakah yang paling lemah. Tetapi tentang mengapa Adam dan Hawa harus saling menjaga, saling menguatkan.

Apa Kau Pernah?

apa kau sanggup meninggalkanku? kau pernah sanggup mencintaiku
apa kau perlu membenci aku? aku pernah kamu perlukan

apa kau ingin melupakanku? kau pernah ingin aku ingatkan
apa kau mampu menyakitiku? kau pernah mampu melindungiku

apa kau bisa hidup tanpaku? kau pernah bisa hidup denganku
apa kau mau menjauhiku? kau pernah mau mendekatiku

apa kau merasa harus memaki aku? aku pernah merasa harus memuji kamu
apa kau rela aku bersedih? kau pernah rela menangisiku

apa kau tidak percaya aku? dulu kau pernah meyakinkanku
apa kau tidak merindukanku? kau pernah sangat rindu padaku

apa kau mampu cari yang lain? kau pernah mampu terima aku
apa kau sanggup mengacuhkanku? kau pernah sanggup perhatikanku

apa kau terus menghindariku? kau pernah terus mencari aku
apa kau lari dariku? kau pernah mengejar aku

apa aku hina dimatamu? kau pernah senyum memandangiku
apa kau hebat melukaiku? kau pernah hebat menjaga aku

apa kau tetap pilih yang lain? kau pernah tetap memilih aku
apa kau bangga khianatiku? aku pernah bangga kau setia

Ruang Angkasa : Biasa


Kelak, karena isinya hanya terdiri dari penghuni-penghuni biasa pula. Cuma aku, kamu, dan anak-anak kita. Rumah kita nanti akan kita bangun dengan hal-hal yang biasa saja.

Biasa mengaji dikala magrib
Biasa shalat disaat waktunya
Biasa menghabiskan banyak waktu untuk sekedar membaca buku
Biasa saling membangunkan dikala sepertiga malam

Biasa saling bertukar hafalan bacaan
Biasa berdiskusi membahas banyak hal
Biasa saling menegur satu sama lain jika ada hal yang salah
Biasa berkata jujur

Biasa mengatakan tolong dan terima kasih
Biasa memilih naik turun-gunung, melihat senja di pantai, atau sekedar membaca buku ditaman, dibandingkan ke pusat perbelanjaan

Biasa mencium, memeluk, dan saling menyayangi satu sama lain
Biasa mengasihi teman sebaya

Semuanya akan biasa-biasa saja. Karena kita memang hanya akan melakukan hal yang biasa-biasa saja. Tapi semoga, itu semua bisa menjadi titik awal untuk membangun sebuah kehidupan yang luar biasa. Amin.

Selamanya


Apa yang tidak hidup terkadang memberi kehidupan.
Ia bergerak seperti angin mengangkat air lautan,
Ia bergerak seperti angin mengajak daun menari,
Ia bergerak seperti angin menyapu debu jalanan.

Namun inilah hidup.
Hidupku, kumpulan langkah-langkah kecil yang membawa mimpi menjadi kenyataan, langkah-langkah kecil yang kau kuatkan..
 
Suatu hari aku percaya, aku akan menjadi aku yang kau impikan. 
Puncak sebenarnya hanyalah dasar di ketinggian seperti tiada akhir di dalam hidup kecuali kematian.

Maka biarlah lepas emas dari tanganku, asal tidak kamu dari hatiku.
Tetaplah di sisiku, jangan menjauh, sebab cinta itu baik di kedekatan.

Saksikanlah tetes demi tetes keringatku yang jatuh ke tanah seperti nganga mulut anak kecil yang melihat sinar jatuh di langit.
Pelukmu itu menguatkan, demi pelukmu juga aku berjuang. 

Kelak, saat mimpi telah nyata di rumah kita
Dan dengan tersenyum rohku terlepas dari tubuhnya, tetap selamanya aku di hatimu.

Oleh karena kau tetap ada di sisiku, di saat mimpi ada di tanganku, kau lah yang paling istimewa di hidupku..

Senin, 03 September 2012

Di Hadapan Mata Jendela

waktu mulai berwarna coklat, malam hendak tiba,
aku duduk berhadap-hadap dengan mata jendela.
aku tak tahu, ternyata aku menyukai malam hari.
ia datang seperti seorang anak kecil pulang sekolah.

malam tiba, jatuh tepatnya, jatuh di atap bumi.
aku tak tahu, aku juga mencintai bumi rupanya.
bisakah seorang bukan petani mencintai bumi?
aku bukan petani, dulu papa melarangku jadi ibu tani,
lalu aku menulis puisi, aku pikir kertas itu juga bumi.

dari mata jendela kulihat jalan-jalan mengalir
seperti sebuah sungai yang sungguh keruh.
dan tiba-tiba saja aku juga mencintai sungai
meskipun airnya keruh dan engkau tak bisa
mencuci pakaian kotor dan badanmu di sana.
tetapi aku mencintainya, sangat mencintainya,
sebab ia mengalir seperti waktu dan kehidupan.
aku tahu kalimat itu sudah jutaan kali disebutkan
sebelum dan sesudah aku mengatakannya.
tapi sesekali aku ingin menjadi bukan penyair
berkata-kata dengan bahasa umum yang basi.

langitlah rupanya yang menyiramkan warna coklat.
tadi siang aku lihat ia berwarna biru seperti warna
kaos berbau peluh yang aku kenakan sekarang.
mengapa langit senang mengubah warnanya,
sementara kenangan tak bisa berubah warna?
aku tak pernah tahu, juga mungkin engkau,
tetapi sekarang aku sangat mencintai langit,
tak masalah berwarna coklat atau biru kemeja
sebab lapang langit mengajari pohon-pohon berdoa.
aku juga selalu berdoa seperti pohon, untuk engkau disana.

aku mencintai pohon saat daunnya jatuh
ke tanah dan bayangannya jadi indah sekali
bisa membentuk macam-macam pohon lain.
aku pernah bercita-cita jadi bayangan
dulu waktu aku berusia tujuh tahun mungkin.
aku tak ingat..

aku juga mencintai jalan, jalan apa saja,
kecuali jalan yg ditanda merahi dilarang berhenti di sana.
tetapi aku paling mencintai sebuah jalan,
tak penting betul menyebut nama jalan itu.

ternyata aku juga mencintai bintang-bintang.
mereka kadang-kadang kubayangkan
sebagai percikan-percikan darah,
meskipun aku selalu gagal memastikan
darah siapa yang memercik dan bercahaya itu.
aku punya pertanyaan lain tentang bintang
banyak sekali, tetapi aku lebih penasaran
pada bulan: benda bulat sebiji yang menggemaskan.

aku ternyata memang mencintai bulan
cahayanya palsu tetapi tetap cantik.
aku punya gambar bulan di dompet dan handphoneku,
aku suka memandanginya kalau hujan turun.
fotomu juga ada di dompetku, lebih dari satu
karena engkau lebih tampan, paling tampan.

hujan, aku juga mencintainya, sungguh
meskipun kadang-kadang aku jengkel.
hujan selalu turun seperti perangkap jala nelayan
dan setiap orang, termasuk engkau, hanyalah ikan.
tapi hujan selalu punya cerita tentang kita..

sebelumnya aku tak tahu aku juga mencintai laut
saat malam hari dan ada bulan bulat utuh di langit.
aku suka melihat tubuh laut membuka dirinya
membiarkan bayangan bulan menduga dalamnya.
tetapi engkau selalu saja tak mampu aku duga,
apakah engkau telah menjadi laut paling dalam?

yang hitam jadi coklat, termasuk mata jendela.
aku sangat mencintai jendela, seperti matamu.
jam tak kuhitung, menit detik,
dan aku masih di depan mata jendela ini..

jika nanti aku mati, tak masalah hari apa jam berapa,
mungkinkah saat itu aku sedang berada di depan jendela?
sedang memikirkan semua yang kucintai, termasuk engkau.
dan apakah mata jendela akan menatap mataku tanpa bersedih?

Dear Malam...

Kepada malam yang tak tahu harus berapa kali ku ucapkan terima kasih




Bukan deburan ombak atau sentuhan angin dengan dedaunan, melainkan suara mesin kendaraan yang terus jadi soundtrack kesendirian di sini.

Sesekali ku terus menjejali pikiran ini dengan roda kehidupan yang berlalu begitu cepat.

Hampir 1 tahun lebih merapal jarak, merangkak maju dengan pikiran yang selalu semu. Memejam di depan sebuah kalender tua. Jatuh bisu dengan segala detik yang sudah ku lewati. Sampai akhirnya terpelosok di sebuah pemikiran apa makna dari cinta itu sendiri. Apakah sebuah kata kerja atau hanya sekedar kata sifat?

Aku bukan wanita pemeran sebuah drama 80an dengan segala tutur kata pujangga yang sering ku lihat di sebuah pertunjukan.

Aku tak paham ilmu falak ataupun tarbiyah. Tapi jika waktu adalah teman ku, aku butuh jam untuk melengkapinya.
Aku tak paham ilmu gravitasi. Tapi jika aku terjatuh, aku ingin kamu yang menangkapnya.

Sudah…

Sudah…

Ingin ku sudahi hari ini. Rebah manja di ujung rindu, bergaduh dengan ramai canda tawa seorang dirimu.

Terima kasih malam :)

Radar Perahu-ku (perahu kertas)

Perahu kertasku kan melaju
membawa surat cinta bagimu
Kata-kata yang sedikit gila,
tapi ini adanya

Perahu kertas mengingatkanku
betapa ajaibnya hidup ini
Mencari-cari tambatan hati,
kau sahabatku sendiri
Hidupkan lagi mimpi-mimpi
cinta-cinta… cita-cita …
cinta-cinta…
yang lama ku pendam sendiri
berdua ku bisa percaya

Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu
Tiada lagi yang mampu berdiri
halangi rasaku, cintaku padamu

Ku bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu

Oh bahagia kau telah terlahir di dunia
Dan kau ada di antara milyaran manusia
Dan ku bisa dengan radarku menemukanmu..

Yakinkan Aku....

Kuyakinkan hati ini hanya untuk satu yang kau punya
Tiada lain harapku selain kau pun lakukan hal yang sama
Bukan karena ku tak percaya
Hanya saja rasa curiga yang tertempa oleh kesakitan-kesakitan sebelumnya masih menggerogotiku dan tak mau enyah
Maka...
Yakinkan aku akan adamu sayang
Yakinkan aku akan hatimu cinta
Yakinkan aku akan kesungguhanmu kasihku

Agar tenang jiwaku dalam melangkah bersamamu..

Beriringan, berdampingan, terjang segala rintang yang menghadang..
Tak inginku lihat apa yang ada dibelakang..
Dan tak jua cukup keberanianku untuk langkahkan kaki dan hati ini ke depan
Tak akan sanggup rasanya jika tak kau sertakan genggamanmu pada tanganku..
Maka itu yakinkan aku sayangku...
Dan akan kucoba terus percaya untuk tetap melangkah bersama..menghalau segala kecamuk yang ada dalam dada....

Senin, 06 Agustus 2012

Cinta di atas cinta


Pagi..Sinar mentari..Aroma dari secangkir kopi..
Membawaku menerawang jauh tentang arti hadirmu. Sesosok  manusia dengan segala yang dipunya dalam pribadinya, mampu membolak-balik ruang rindu yang telah lama tak disisipi. Pribadi yang ceria namun dewasa dengan pandangan-pandangannya akan kehidupan masa depan meski tak jarang pula diliputi emosi yang kurang dapat dikendalikannya. Semua tentang dirinya terpaket dalam satu bingkisan manis, menggemaskan sekaligus sesekali menyebalkan. 

Lebih dari jumlah bulan dalam satu tahun aku mengenalnya. Bermula dari pertemanan dunia maya yang berlanjut menjadi obrolan canda dan tawa juga sesekali tentang nestapa. Cerita duka dan bahagia hari demi hari kian bergulir disana, menumbuhkan rasa yang timbul tenggelam karena keadaan. Membangkitkan harapan yang terkadang harus disisihkan untuk menghindari luka. Rasa itu ada tanpa pernah tau adakah rasa yang serupa disebelah sana.

Waktu semakin berlalu. Masih juga tak ku tahu apa yang terjadi dalam hati si pemiliknya di seberang sana. Akupun mencoba menyerah. Berpaling mencari yang lain yang mungkin akan terbuka. Tidak. Rasa itu tidak hilang. Ia tetap nyaman ditempatnya, hanya saja sejenak aku tak ingin menengoknya. Lagi. Untuk mengihindari luka. Itu alasanku.

Ya. Aku berpindah. Menemukan sosok lain tanpa rasa. Ku yakin yang ku perlu hanya terbiasa.Semua berjalan sesuai pikirku. Itu pikirku, rencanaku, tapi siapa  aku? Ada rencana lain yang lebih besar, tak kentara, namun nyata saat waktunya tiba. Rencana Yang Maha Berencana. Semua berbalik kisah tak seperti  pikirku semula. Ternyata aku bersama orang yang salah. Sakit. Terluka. Namun juga bahagia diwaktu yang sama karena tetiba rasa yang dulu selalu ku pertanyakan itu pun ada di hati si pemiliknya.

Berita itu kuterima untuk menguatkanku dititik keterpurukanku. Maka inilah rencana Tuhan untuk hatiku.

Rasa itu ada. 
Rasa itu memiliki nama. 
Cinta. 

Rasaku bersambut. Cintaku terjemput. Ruang rinduku tak lagi sunyi. Sosok yang selama ini kunanti dengan segala harap tak membiarkanku berteman dengan rasa itu sendiri. Dia disini. Menemaniku dengan segala rasa yang sama. Aku bahagia. Ya, aku bahagia. Namun bahagia yang tetap tak sempurna dan masih terliputi air mata.

Rasa cinta yang membawa bahagia sekaligus luka. Luka dengan caranya sendiri untuk kami berdua. Luka karena tersadar tak ada jalan yang bisa ditempuh tuk satukan dua cinta ini. Luka karena cinta yang terbatasi oleh sesuatu yang maha tinggi. Selapis tebing  tinggi yang memisahkan kami dalam ber-Tuhan.

Tak ada perjuangan yang bisa dilakukan. Tidak, cinta kami karena Tuhan dan tak mungkin kami megkhianati Dia yang telah berikan cinta pada kami. Kami mensyukuri dan membiarkan cinta ini tetap di hati tanpa harus memiliki meski ego mengatakan harus. Biarlah ini mendewasakan kami. Menguatkan hati dan diri. menyadarkan kami bahwa ada cinta lain yang lebih hakiki. Cinta lain yang lebih layak bahkan harus dicintai oleh cinta itu sendiri.

Ini jalan kami. Cinta kami. Untuk cinta yang lebih tinggi yang memberikan kami arti tuk masing-masing diri.