Pagi..Sinar mentari..Aroma dari secangkir kopi..
Membawaku
menerawang jauh tentang arti hadirmu. Sesosok manusia dengan segala
yang dipunya dalam pribadinya, mampu membolak-balik ruang rindu yang
telah lama tak disisipi. Pribadi yang ceria namun dewasa dengan
pandangan-pandangannya akan kehidupan masa depan meski tak jarang pula
diliputi emosi yang kurang dapat dikendalikannya. Semua tentang dirinya
terpaket dalam satu bingkisan manis, menggemaskan sekaligus sesekali
menyebalkan.
Lebih
dari jumlah bulan dalam satu tahun aku mengenalnya. Bermula dari
pertemanan dunia maya yang berlanjut menjadi obrolan canda dan tawa juga
sesekali tentang nestapa. Cerita duka dan bahagia hari demi hari kian
bergulir disana, menumbuhkan rasa yang timbul tenggelam karena keadaan.
Membangkitkan harapan yang terkadang harus disisihkan untuk menghindari
luka. Rasa itu ada tanpa pernah tau adakah rasa yang serupa disebelah
sana.
Waktu
semakin berlalu. Masih juga tak ku tahu apa yang terjadi dalam hati si
pemiliknya di seberang sana. Akupun mencoba menyerah. Berpaling mencari
yang lain yang mungkin akan terbuka. Tidak. Rasa itu tidak hilang. Ia
tetap nyaman ditempatnya, hanya saja sejenak aku tak ingin menengoknya.
Lagi. Untuk mengihindari luka. Itu alasanku.
Ya.
Aku berpindah. Menemukan sosok lain tanpa rasa. Ku yakin yang ku perlu
hanya terbiasa.Semua berjalan sesuai pikirku. Itu pikirku, rencanaku,
tapi siapa aku? Ada rencana lain yang lebih besar, tak kentara, namun
nyata saat waktunya tiba. Rencana Yang Maha Berencana. Semua berbalik
kisah tak seperti pikirku semula. Ternyata aku bersama orang yang
salah. Sakit. Terluka. Namun juga bahagia diwaktu yang sama karena
tetiba rasa yang dulu selalu ku pertanyakan itu pun ada di hati si
pemiliknya.
Berita itu kuterima untuk menguatkanku dititik keterpurukanku. Maka inilah rencana Tuhan untuk hatiku.
Rasa itu ada.
Rasa itu memiliki nama.
Cinta.
Rasaku
bersambut. Cintaku terjemput. Ruang rinduku tak lagi sunyi. Sosok yang
selama ini kunanti dengan segala harap tak membiarkanku berteman dengan
rasa itu sendiri. Dia disini. Menemaniku dengan segala rasa yang sama.
Aku bahagia. Ya, aku bahagia. Namun bahagia yang tetap tak sempurna dan
masih terliputi air mata.
Rasa
cinta yang membawa bahagia sekaligus luka. Luka dengan caranya sendiri
untuk kami berdua. Luka karena tersadar tak ada jalan yang bisa ditempuh
tuk satukan dua cinta ini. Luka karena cinta yang terbatasi oleh
sesuatu yang maha tinggi. Selapis tebing tinggi yang memisahkan kami
dalam ber-Tuhan.
Tak
ada perjuangan yang bisa dilakukan. Tidak, cinta kami karena Tuhan dan
tak mungkin kami megkhianati Dia yang telah berikan cinta pada kami.
Kami mensyukuri dan membiarkan cinta ini tetap di hati tanpa harus
memiliki meski ego mengatakan harus. Biarlah ini mendewasakan kami.
Menguatkan hati dan diri. menyadarkan kami bahwa ada cinta lain yang
lebih hakiki. Cinta lain yang lebih layak bahkan harus dicintai oleh
cinta itu sendiri.
Ini jalan kami. Cinta kami. Untuk cinta yang lebih tinggi yang memberikan kami arti tuk masing-masing diri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar