Apa jadinya jika orang yang selalu mengangkatmu ketika kamu terjatuh
selama ini, kini justru menjadi penyebab kamu "nyungsruk" begitu dalam?
Kemana lagi kamu akan berpegangan? Kemana lagi kamu akan mencari aman?
Kemana lagi kamu akan mencari kekuatan? Kemana lagi kamu akan
menumpahkan kesedihan? Kemana lagi kamu akan mengembangkan harapan?
Ya, itulah yang kini aku alami. Layaknya sedang menoreh coretan-coretan atas keadaan. Dia yang menguatkanku selama ini justru menjadikanku terjatuh dan kian terpuruk. Dia yang menghapuskan airmataku selama ini justru menguras habis sisa airmataku hingga perih. Dia yang melukiskan senyuman di bibirku justru menyapukan mendung tak berkesudahan di wajahku. Dia yang menjadi tempatku berpegang dan mencari perlindungan kini justru menjerumuskanku ke dalam jurang kepedihan. Dia yang melambungkan harapan kini justru memecahkan asa hingga hilang menjadi kepingan.
Ternyata waktu bukan jaminan untuk jadi tolak ukur seberapa dalam perasaan seseorang yang terbentuk karenanya. Menghabisi waktu bertahun-tahun bersama, saling mengisi dan menjaga sudah pasti meninggalkan rasa yang begitu dalam, membekas dan bahkan menyiksa saat dihadapkan dengan perpisahan. Namun bukan berarti waktu yang sebentar dalam suatu suatu hubungan tidak bisa memberikan efek yang sama. Buktinya, hubungan singkat bahkan mungkin bisa dikatakan super singkat meninggalkan kesan pada perasaan dan luka yang begitu dalam di kala aku harus berhadapan dengan perpisahan.
Dia hadir dalam keterpurukanku. Membantuku berdiri dan membasuh luka yang menyebabkan perih. Menyembuhkan luka yang menganga dengan penawar dari hatinya. Menghadirkan tawa ceria dalam sedihku.
Siapa sangka semua berubah dalam sekejap mata. Menghadirkan tanda tanya dan rasa tak percaya. Kemana dia dan apa alasan dibaliknya. Hanya tanya tanpa curiga.
Hingga waktu perlahan menyibak tabirnya, tanda demi tanda merangkai cerita. Bubarkan segala ucap yang pernah terlontarkan. Membalikkan keadaan dengan gelimang tanya baru.
Benarkah dia? Kenalkah aku padanya? Masihkah dia sebaik apa yang tersimpan dalam ingatan? Atau hanya diriku saja yang sebenernya menutup mata akan siapa dia?
Karena hatiku yang terlanjur cinta...
Ya, itulah yang kini aku alami. Layaknya sedang menoreh coretan-coretan atas keadaan. Dia yang menguatkanku selama ini justru menjadikanku terjatuh dan kian terpuruk. Dia yang menghapuskan airmataku selama ini justru menguras habis sisa airmataku hingga perih. Dia yang melukiskan senyuman di bibirku justru menyapukan mendung tak berkesudahan di wajahku. Dia yang menjadi tempatku berpegang dan mencari perlindungan kini justru menjerumuskanku ke dalam jurang kepedihan. Dia yang melambungkan harapan kini justru memecahkan asa hingga hilang menjadi kepingan.
Ternyata waktu bukan jaminan untuk jadi tolak ukur seberapa dalam perasaan seseorang yang terbentuk karenanya. Menghabisi waktu bertahun-tahun bersama, saling mengisi dan menjaga sudah pasti meninggalkan rasa yang begitu dalam, membekas dan bahkan menyiksa saat dihadapkan dengan perpisahan. Namun bukan berarti waktu yang sebentar dalam suatu suatu hubungan tidak bisa memberikan efek yang sama. Buktinya, hubungan singkat bahkan mungkin bisa dikatakan super singkat meninggalkan kesan pada perasaan dan luka yang begitu dalam di kala aku harus berhadapan dengan perpisahan.
Dia hadir dalam keterpurukanku. Membantuku berdiri dan membasuh luka yang menyebabkan perih. Menyembuhkan luka yang menganga dengan penawar dari hatinya. Menghadirkan tawa ceria dalam sedihku.
Siapa sangka semua berubah dalam sekejap mata. Menghadirkan tanda tanya dan rasa tak percaya. Kemana dia dan apa alasan dibaliknya. Hanya tanya tanpa curiga.
Hingga waktu perlahan menyibak tabirnya, tanda demi tanda merangkai cerita. Bubarkan segala ucap yang pernah terlontarkan. Membalikkan keadaan dengan gelimang tanya baru.
Benarkah dia? Kenalkah aku padanya? Masihkah dia sebaik apa yang tersimpan dalam ingatan? Atau hanya diriku saja yang sebenernya menutup mata akan siapa dia?
Karena hatiku yang terlanjur cinta...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar