Berlalu tanpa huruf, angka, apalagi kata. Kamu adalah sebesar-besarnya tanda tanya.
Entah rasanya aku percuma diajarkan membaca sewaktu duduk di bangku taman kanak-kanak, karena hingga sampai saat ini aku benar-benar tidak pernah bisa membaca arah tujuan kita.
Andai saja waktu itu aku yang lugu benar-benar diajari caranya berlari, mungkin aku tidak akan diam berdiri memilih bertahan atau pergi.
Hubungan kita memang tak kenal waktu, terus menggebu melumat sendu.
Segalanya merunduk pada teduh, tanggalkan semua gaduh, menyisakan hatimu padaku yang tak pernah luluh.
Aku tahu, kita sama-sama takut kehilangan tapi tak pernah berani mengambil keputusan.
Ada persimpangan jalan yang tak bisa kita lalui.
Ada hati yang tak bisa sama-sama kita sakiti.
Ada secercah wajah cerah namun terus dihantui pucat pasi.
Ada ruang-ruang kosong di antara kita namun tak pernah bisa kita isi.
Apakah hatimu adalah teka-teki silang di luar batas nalar manusia biasa?
Begitu datarkah sapa yang kuretas sehingga aku tak bisa membuka mata hatimu yang hilang dalam kesenyapan masa?
Maaf, jika aku hanya bisa menghidangkan sebuah kebimbangan. Di satu sisi ruang hati, padahal kita sama-sama ingin menghadirkan sebuah pelangi di ujung jalan. Menengahi setiap pagi tanpa sebuah pertanyaan;
Lalu Mau kemana kita? -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar