Saya tak paham budaya Roma, tapi semenjak memasuki kehidupanmu saya bagai Caesar tak berkuda.
Tak ada batu sekeras isi kepalamu. Meski saya tahu hatimu lembut selembut kapas tak berdebu. Andai kamu jeli sedikit, sebagaimana hati tak berkedip, pasti kamu sadar bahwa ada banyak rindu yang kukatakan dengan bercanda. Karena kehidupan kita memang tak pernah bisa serius seperti pergelaran colosseum di Roma.
Kini, aku mengarah pada ketiadaan. Tentang rasa bimbang yang ingin aku curahkan kepada keadaan. Dari yang tak pernah terlewatkan, aku belajar memahami kepergian dari orang yang jarang sekali aku temukan. Aku belajar tentang makna melepaskan,
Jujur, aku kehilangan zat penawar yang ada pada di dirimu di kala aku dimabuk rindu. Kamu patut tahu itu. Tiap kamu perlahan menjauh, ada sesuatu yang perlahan ikut jatuh, dan itu adalah mimpi-mimpiku yang terbias runtuh.
Nanti, jika ada yang harusnya dikorbankan untuk jadi alasan pertemuan, semoga bukan perasaan kita yang sewaktu-waktu ingin dikembalikan.
Kamu pernah menjadi tempat curhat yang teduh, kamu juga pernah menjadi tempat berharap yang teguh, dan juga pernah menjadi penenang di jiwa yang begitu rapuh.
Kamu pernah menjadi tempat curhat yang teduh, kamu juga pernah menjadi tempat berharap yang teguh, dan juga pernah menjadi penenang di jiwa yang begitu rapuh.
Tanpamu, senja akan tetap sama. Pucat pasi tak ada jingga.
Reblogged : gipacksaputra
Tidak ada komentar:
Posting Komentar