Kata mama, cinta itu seperti hujan. Sering meruah tiba-tiba. Menyisakan
warna-warna di langit bernama pelangi. Aku selalu mengingat kata kata
beliau. Saat hujan, aku selalu menanti pelangi diujung cakrawala sana.
Memandang keindahannya. Merendanya menjadi menjadi untaian indah.
Berharap ada ruah-ruah semaian cinta dalam tiap indah warnanya. Ku pikir
cinta seperti itu selalu sejati karena tidak pernah dirancang kapan
jatuhnya dan kapan hilangnya. Oleh karenanya aku selalu merenda cintaku
dengan hati dan jiwaku untuk lelaki yang beruntung membuatku mau merenda
cinta itu. Cinta untukku selalu menyanyikan keindahan, jikapun ada
tangis dan air mata, itu hanyalah karena ego yang terluka.
Warna pelangi, seperti menaungi warna senja. Aku akan selalu mengingat setiap langit memerah saat menjelang gelap. Senja selalu seperti bisikan di saat aku begitu lelah. Ah lelakiku, Aku ingin selalu tahu kamu mencintaiku setiap angin menerpa wajahku. Mama benar, cinta itu selalu ada di sana, bersama waktu yang melahirkannya.
Warna pelangi, seperti menaungi warna senja. Aku akan selalu mengingat setiap langit memerah saat menjelang gelap. Senja selalu seperti bisikan di saat aku begitu lelah. Ah lelakiku, Aku ingin selalu tahu kamu mencintaiku setiap angin menerpa wajahku. Mama benar, cinta itu selalu ada di sana, bersama waktu yang melahirkannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar